Prabowo mengakui hal itu. Dengan rendah hati. Tanpa ragu.
"Saya yang beruntung, Pak Jokowi yang capek-capek merintis, aku yang meresmikan," ucapnya. Ada nada bersyukur di sana. Bukan arogansi. "Itu namanya takdir. Tapi karena saya takut kualat, aku undang beliau ya. Saya hormati semua pendahulu saya."
Pernyataan ini menarik. Prabowo menggunakan kata "kualat". Istilah Jawa yang sarat makna. Menunjukkan kepercayan spiritual. Bahwa melupakan jasa orang adalah dosa.
Di tengah hiruk-pikuk politik transaksional, sikap ini terasa langka. Pemimpin yang mengakui peran pendahulu. Tanpa merasa terancam. Malah mengundang langsung ke acara resmi.
Tamu undangan bertepuk tangan. Jajaran pejabat mengangguk setuju. Momen itu merekam sikap politik yang berbeda.
Budaya Politik Indonesia: Antara Sanjungan dan Caci Maki
Prabowo menyinggung pola lama. Pola yang berulang sejak era reformasi. Bahkan mungkin sebelumnya.
Pemimpin yang sedang berkuasa. Diagung-agungkan. Media memberitakan prestasi. Rakyat bertepuk tangan. Pujian mengalir deras.
Tetapi begitu jabatan selesai? Semuanya berbalik. Kesalahan digali. Kontroversi diungkit. Media berbondong-bondong mencari skandal. Publik berubah menjadi juri yang kejam.
Soeharto mengalaminya. Megawati merasakannya. SBY tidak luput. Jokowi kini mulai merasakan.
Fenomena ini mencerminkan ketidak-dewasaan politik. Bangsa yang belum bisa menghargai. Tidak mampu membedakan kritik konstruktif dengan penghakiman.
Prabowo sepertinya menangkap ini. Dia ingin memutus rantai. Memberikan contoh. Bahwa pemimpin baru tidak harus mengubur pendahulu.
"Harus kita ubah," katanya dengan tegas.
Kalimat pendek. Lima kata. Namun berisi seruan transformasi. Ajakan untuk mengubah cara berpolitik. Dari destruktif menjadi konstruktif.
Jokowi dan Prabowo: Dari Rivalitas Menuju Respek?
Artikel Terkait
Perubahan Status Kawasan Hutan dalam Revisi RTRW Parigi Moutong Jadi Atensi DPRD Parigi Moutong
Ribuan Guru PGRI Luwu Utara Demo Tuntut Keadilan Dua Guru SMAN 1 Masamba Kena PTDH
Jusuf Kalla Ngamuk Tanah Belasan Hektar Miliknya Dirampok, Tuding Ada Permainan Kotor!
Dampak Revisi RTRW Parigi Moutong yang Jadi Fokus DPRD, Terhadap Izin Investasi dan Tata Ruang Lama
KPK Tetap Selidiki Whoosh Meski Prabowo Janjikan Tanggung Jawab