• Selasa, 21 Juli 2026

Validitas Data Jadi Kunci Pemerataan Program "Berani Menyala" di Parigi Moutong

.
Nur Rafiqa, Sulawesi Today
- Senin, 17 November 2025 | 06:14 WIB
Rapat sinkronisasi ungkap tumpang tindih data bantuan listrik di Parigi Moutong. Validitas data jadi kunci keadilan distribusi.
Rapat sinkronisasi ungkap tumpang tindih data bantuan listrik di Parigi Moutong. Validitas data jadi kunci keadilan distribusi.

Sulawesitoday - Fakta mengejutkan. Tumpang tindih informasi penerima bantuan listrik terjadi di berbagai tingkatan. Wakil Bupati Parigi Moutong, H. Abdul Sahid, membuka forum koordinasi yang dihadiri seluruh camat dan perangkat daerah terkait beberapa waktu lalu. Pertemuan ini bukan sekadar formalitas administratif. Melainkan upaya serius meluruskan kekisruhan data yang selama ini menghambat distribusi bantuan pemasangan instalasi listrik gratis.

Program "Berani Menyala" yang digagas Gubernur Sulawesi Tengah kini masuk tahap krusial. Validitas data menjadi sorotan utama. Tanpa data akurat, bantuan bisa salah sasaran. Kecemburuan sosial pun mengintai di balik setiap kesalahan pencatatan.

"Pendataan harus berdasarkan rumah," tegas Wabup membuka arahan. Bukan kepala keluarga. Satu rumah, satu data. Prinsip sederhana namun sering dilupakan. Setiap berkas wajib lengkap: fotokopi KTP, Kartu Keluarga, foto penerima. Tak ada kompromi dalam hal ini. "Kita ingin program ini merata di 23 kecamatan," lanjutnya dengan nada meyakinkan.

Keterbatasan anggaran memang realitas yang harus dihadapi. Namun bukan berarti bantuan dibagi rata tanpa pertimbangan matang. Prioritas ditentukan melalui kategori desil kemiskinan. Bukan berdasarkan kedekatan wilayah. Bukan pula karena lobi politik tertentu. Keadilan menjadi kompas utama dalam pengambilan keputusan.

Mengapa Data Terus Tumpang Tindih?

Pertanyaan ini menggantung di ruang rapat. Plt. Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Mohammad Aflianto Hamzah, memberikan jawaban gamblang. Selama ini ketidaksinkronan terjadi antara kecamatan, desa, dan pemerintah daerah. Bahkan ada pengajuan data langsung ke provinsi. Tanpa melalui kabupaten. Alur yang berantakan menciptakan kekacauan informasi.

"Data yang dikirim harus valid," ujar Aflianto dengan penekanan khusus. Ia meminta para camat menyampaikan pesan ini kepada kepala desa. Masyarakat perlu memahami satu hal penting: pendataan bukan jaminan pemasangan instan. Proses berlangsung bertahap. Sesuai kemampuan anggaran yang ada. "Yang penting sudah terdaftar, pasti akan dipasang," janjinya memberikan kepastian.

Rumah yang berada di jalur tiang listrik mendapat prioritas pertama. Logis dan efisien. Sementara wilayah yang belum teraliri jaringan harus menunggu tahap pengembangan berikutnya. Bukan diskriminasi. Melainkan strategi pelaksanaan yang terukur.

Bagaimana Program Ini Menyentuh Akar Kemiskinan?

Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Aswini Dimpel, membawa perspektif lebih luas. "Berani Menyala" bukan program berdiri sendiri. Ia bagian dari ekosistem pengentasan kemiskinan. Terhubung dengan data perumahan, bantuan rumah tidak layak huni, dan program sosial lainnya. Sebuah jaring pengaman yang saling mengait.

Koordinasi lintas dinas menjadi keniscayaan. Dinas Sosial, Perumahan, Kecamatan, dan Desa harus berbicara dalam satu bahasa data. Desil satu sampai empat menjadi kategori penerima utama. Mereka yang paling membutuhkan, bukan yang paling vokal. Transparansi dalam klasifikasi ini mencegah manipulasi data.

"Alur data yang benar adalah Desa, lalu Camat, kemudian Pemerintah Daerah," tegas Aswini menjelaskan hierarki yang sering diabaikan. Setiap dokumen harus ditandatangani. Dikoordinasikan dengan baik. Memiliki dasar hukum yang bisa dipertanggungjawabkan di kemudian hari. Bukan sekadar tumpukan kertas tanpa kekuatan legal.

Rapat berlangsung intens. Diskusi mengalir dari satu persoalan ke persoalan lain. Para camat mencatat detail teknis. Beberapa mengajukan pertanyaan klarifikasi. Komitmen bersama terbangun di ruangan itu. Bahwa program ini harus berhasil. Harus menyentuh mereka yang selama ini hidup dalam kegelapan—baik secara harfiah maupun metaforis.

Wabup menutup forum dengan harapan sederhana namun bermakna. "Yang kita jaga adalah keadilan." Lima kata penuh bobot. Program ini bukan ajang pamer pembangunan. Bukan pula transaksi politik jangka pendek. Melainkan komitmen nyata memberikan akses dasar kepada masyarakat Parigi Moutong. Tanpa diskriminasi. Tanpa pilih kasih.

Halaman:

Editor: Nur Rafiqa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini