Sulawesitoday - Di tengah kehancuran massal, rumah ibadah tetap berdiri. Bukan sekali, tapi dua kali. Fenomena ini kembali muncul di Aceh, memperlihatkan pola yang sama: ketika alam mengamuk, masjid-masjid tertentu seolah kebal dari kerusakan.
Tsunami 2004 meninggalkan kenangan kelam. Gelombang setinggi 30 meter menghantam Banda Aceh. Lebih dari 170.000 jiwa melayang. Namun, Masjid Raya Baiturrahman tetap tegak berdiri. Kokoh di tengah puing-puing. Sekelilingnya rata dengan tanah.
Bukan hanya Baiturrahman saja. Masjid Rahmatullah Lampu'uk juga bertahan. Kedua bangunan ini menjadi saksi bisu tragedi kemanusiaan terbesar abad ini. Masyarakat menyebutnya "keajaiban". Para ahli menyebutnya "standar konstruksi tinggi".
Kini, 21 tahun kemudian, sejarah berulang. Banjir bandang dan longsor melanda Kabupaten Bener Meriah pada 26 November 2025. Air bercampur lumpur hitam menyapu permukiman. Jembatan Lampahan terputus total. Ratusan bangunan hancur.
Namun, sebuah masjid berlantai dua di tengah bencana itu tetap utuh. Video drone yang diunggah akun TikTok @Joe_sastra memperlihatkan pemandangan yang menggetarkan: air seolah membelah saat melewati masjid. Endapan pasir hitam hanya memenuhi lantai bawah. Struktur bangunan tidak rusak sama sekali.
Aliran air di sekitar masjid cukup deras. Namun, tidak masuk ke dalam area ibadah. Hanya melewati bagian pinggir. Sementara bangunan di sekelilingnya porak-poranda.
Mengapa Konstruksi Masjid Bertahan di Tengah Bencana?
Jawabannya bukan hanya soal spiritual. Para ahli teknik sipil memberikan penjelasan rasional. Pondasi masjid-masjid besar biasanya dibangun lebih dalam. Struktur betonnya diperkuat dengan standar khusus. Desain arsitekturnya juga memperhitungkan beban ekstrem.
Masjid Raya Baiturrahman dibangun dengan pondasi beton bertulang. Ketebalan dindingnya mencapai 80 sentimeter. Struktur kubahnya dirancang mendistribusikan beban secara merata. Fondasi bangunan ini mencapai kedalaman 15 meter. Faktor inilah yang membuat bangunan tersebut mampu menahan terjangan gelombang tsunami.
Untuk kasus di Bener Meriah, lokasi masjid juga memengaruhi ketahanan. Elevasi tanah di sekitar bangunan mungkin lebih tinggi. Sistem drainase yang baik bisa mengurangi tekanan air. Arah aliran banjir yang kebetulan tidak menghantam langsung struktur utama.
Namun, tetap saja ada elemen yang sulit dijelaskan secara teknis. Seperti fenomena air yang "membelah" di sekitar masjid Bener Meriah. Atau fakta bahwa bangunan-bangunan lain dengan konstruksi serupa di sekitarnya justru ambruk.
Bagaimana Respons Publik Terhadap Fenomena Ini?
Viral. Itulah kata yang tepat. Video drone dari Bener Meriah ditonton jutaan kali. Komentar netizen membanjiri kolom unggahan. Mayoritas mengaitkan peristiwa ini dengan kuasa Ilahi.
"Lagi-lagi masjid selamat," tulis seorang pengguna. Sang pemilik akun membalas singkat: "Iya kakak mesjid aman." Komentar lain lebih panjang: "Kuasa Allah rumah Allah selalu terlindungi."
Artikel Terkait
Kantor Desa Torue Tersegel Lagi, Situasi Memanas Hingga Dua Kelompok Warga Saling Berhadapan
Deretan Dugaan Penyalahgunaan Wewenang Abdul Sahid Bikin DPRD Parigi Moutong Geram
Rival Altaf, Remaja Indigo yang Gambarkan Posisi Korban Longsor dengan Detail Akurat Sebelum Tim SAR Menggali
Mahfud MD Bongkar Dugaan Kolusi Izin Tambang di Balik Rentetan Bencana Sumatera
Marah Besar, Video Truk Kayu Gelondongan Pasca-Bencana Bikin Titiek Soeharto Semprot Menteri Kehutanan