Mengapa Banjir Kali Ini Begitu Menghancurkan?
Banjir yang melanda Aceh Tamiang pada pertengahan Desember 2025 memang tidak main-main. Curah hujan ekstrem dalam beberapa hari terakhir membuat sungai-sungai meluap. Desa Juara, yang terletak di dataran rendah, menjadi salah satu wilayah terparah.
Rumah-rumah terendam hingga atap. Jalan desa berubah jadi sungai berlumpur. Kebun-kebun produktif terendam air kotor berhari-hari, membuat tanaman mati dan tanah kehilangan kesuburannya.
Bagi warga yang menggantungkan hidup dari hasil bumi, bencana ini bukan sekedar kehilangan sementara. Ini adalah kehilangan masa depan. Butuh waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, untuk memulihkan kebun yang hancur. Dan selama itu, dari mana mereka akan makan?
Sang ayah dalam video itu mewakili suara ratusan kepala keluarga lain di Aceh Tamiang yang mengalami nasib serupa. Mereka bukan meminta belas kasihan. Mereka memohon kesempatan untuk bangkit kembali.
Siapa Yang Akan Membantu Mereka Bangkit?
Pertanyaan ini menggantung di benak setiap penonton video tersebut. Pemerintah daerah telah mengumumkan status tanggap darurat. Bantuan logistik mulai berdatangan. Namun untuk pemulihan ekonomi jangka panjang, dibutuhkan lebih dari sekadar beras dan mie instan.
Keluarga-keluarga seperti sang ayah membutuhkan bantuan modal usaha. Bibit tanaman baru. Pelatihan keterampilan alternatif. Dan yang tak kalah penting: Jaminan pendidikan bagi anak-anak mereka yang terancam putus sekolah.
Viral di media sosial memang membantu menarik perhatian publik. Namun perhatian saja tidak cukup. Dibutuhkan aksi nyata dari berbagai pihak—pemerintah, organisasi kemanusiaan, hingga masyarakat sipil—untuk memastikan keluarga-keluarga ini tidak tertinggal dalam proses pemulihan pasca-bencana.
Baca Juga: Ketua Posko di Aceh Tolak Bantuan Beras, Minta Dialihkan ke Kampung yang Lebih Kelaparan
Artikel Terkait
Video Call Pertama Usai Banjir, Ayah di Aceh Tamiang Menangis Haru
Oknum Penegak Hukum Diduga Kendalikan Akses Alat Tambang Ilegal Lambunu
Ngeri-Ngeri Sedap, Warga Beutong Ateuh Nekat Seberangi Sungai Deras Lewat Jembatan Kayu Darurat
72 Jam Tanpa Air Bersih, Ibu Korban Banjir Aceh Tamiang Ungkap Perjuangan Bertahan Hidup
Ketua Posko di Aceh Tolak Bantuan Beras, Minta Dialihkan ke Kampung yang Lebih Kelaparan