Sang relawan mengaku tak kuasa menahan empati melihat kegigihan warga yang seharusnya dilindungi, tapi kini harus berjuang sendiri melawan alam.
"Sulit, sedih lihatnya. Kayak beginilah perjuangan mereka cari nafkah, cari sesuap nasi," ungkapnya.
Apa Harapan Relawan untuk Korban Banjir?
Satu-satunya jalan keluar dari kebuntuan ini adalah percepatan pembersihan akses jalan. Tanpa jalur yang memadai, bantuan akan terus menumpuk di pos-pos sementara, dan penderitaan warga akan terus berkepanjangan.
"Harapanku semoga cepat selesai jalur ini, supaya kita gampang untuk bawa logistik," katanya menutup penuturan.
Alat berat dibutuhkan segera. Koordinasi antar-instansi harus diperketat. Waktu adalah musuh terbesar dalam setiap operasi kemanusiaan—dan di Bener Meriah, waktu kini berpacu dengan nyawa.
Pemerintah daerah dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memang telah menurunkan tim. Namun skala kerusakan yang masif membuat proses pemulihan berjalan lambat. Prioritas utama kini adalah membuka satu jalur utama yang bisa dilalui kendaraan pengangkut bantuan.
Baca Juga: Masjid Pesantren Aceh Tamiang Selamatkan Ratusan Jiwa, Tahan Jutaan Kayu saat Banjir Bandang
Artikel Terkait
Operasi Anti-Tambang Ilegal Polda Sulteng Berakhir Hampa, Publik Curiga Ada Permainan Oknum APH
Di Tengah Pujian Kesuksesan, Film Timur Alirkan Rezeki untuk Korban Bencana Sumatera
Pelajar dan Mahasiswa Moutong Himpun Rp12,3 Juta untuk Korban Bencana Sumatra
Di Kegelapan Malam, Warga Aceh Tamiang Lawan Lumpur Tanpa Alat Berat
Masjid Pesantren Aceh Tamiang Selamatkan Ratusan Jiwa, Tahan Jutaan Kayu saat Banjir Bandang