Sulawesitoday - Kabar baik datang. Akhirnya. Setelah sempat tersendat akibat kendala teknis, denyut nadi pelayanan administrasi kependudukan (Adminduk) di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Majene kembali normal.
Mesin-mesin yang sempat mogok sudah kembali menderu. Antrean yang sempat mengular karena alat rusak, kini mulai terurai. Inilah buah dari kerja cepat yang dilakukan pemerintah daerah.
Senin kemarin, 16 Maret 2026, wajah-wajah aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) tampak berbeda. Tak ada lagi poster tuntutan yang diangkat tinggi-tinggi. Mereka datang untuk satu hal: memastikan janji pemerintah sudah tertunaikan.
Hasilnya memuaskan. Keluhan mahasiswa beberapa pekan lalu dijawab dengan perbaikan nyata pada alat operasional.
Apresiasi dan Rendah Hati
Andika, salah satu penggerak di PMII, tidak sungkan melemparkan pujian. Baginya, langkah cepat pembenahan alat di Capil adalah bentuk tanggung jawab moral kepada rakyat.
"Kami berterima kasih kepada pihak Capil serta Pemerintah Daerah Kabupaten Majene. Apa yang menjadi tuntutan aksi kemarin telah diupayakan dengan keras," kata Andika.
Namun, ada yang lebih menarik dari sekadar apresiasi. Ada sikap ksatria yang ditunjukkan para mahasiswa ini. Di tengah euforia keberhasilan perjuangan mereka, terselip kalimat permohonan maaf. Sebuah pemandangan yang menyejukkan.
Andika mengakui, dalam panasnya orator di jalanan, terkadang emosi meluap melampaui batas kata-kata. "Kami meminta maaf jika saat aksi terdapat kata-kata yang kurang pantas. Sebagai mahasiswa, kami hanya manusia biasa yang terkadang terpancing emosi," tambahnya dengan nada tulus.
Budaya Mandar yang Utama
Pemerintah daerah pun tidak antikritik. Kepala Dinas Dukcapil Kabupaten Majene, A Devianti Altin menyambut hangat tinjauan para aktivis tersebut. Baginya, kritik adalah jamu—pahit saat diminum, tapi menyehatkan organisasi.
Namun, sang Kadis menitipkan satu pesan penting: jangan lupakan akar budaya. Majene adalah tanah Mandar. Tanah yang menjunjung tinggi adab dan kesantunan dalam bertutur kata.
"Kami berharap adik-adik mahasiswa tetap menjaga adab dan budaya kita sebagai orang Mandar saat beraksi," sebutnya.
Beliau tidak menutup mata. Pihak dinas pun mengakui tak luput dari kesalahan. Sinergi antara pengawasan mahasiswa yang vokal dan kesigapan birokrasi yang responsif adalah kombinasi yang dibutuhkan untuk kemajuan daerah.
Kini, urusan KTP dan kartu keluarga di Majene tidak lagi menjadi soal. Mesin sudah diperbaiki, hubungan mahasiswa-pemerintah sudah direkatkan kembali. Semuanya kembali pada jalurnya.
Gerakan Takjil SD 6 Majene, Bukan Sekadar Manis Tapi Soal Empati Siswa
Artikel Terkait
Viral Sebut Warga Rakyat Jelata Kurang Bersyukur, Petugas Makan Bergizi Gratis Dipecat
Viral Buang Sampah di Tol, Kru Bus Madu Kismo Kena Skorsing Sebulan dan Minta Maaf
Selat Hormuz Lumpuh, Pasokan Helium Macet: Industri Semikonduktor Asia Tercekik
Oppo Pecahkan Masalah Terbesar Ponsel Lipat, Layar Datar Tanpa Bekas Lipatan
Handala Hack, Kelompok Hacker Iran yang Lumpuhkan Perusahaan Medis AS Stryker Corp