Sulawesitoday - Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah 1 Majene memperketat filter penerimaan tenaga pendidik baru. Langkah ini diambil bukan sekadar untuk mengisi kursi kosong di depan kelas, melainkan sebagai upaya strategis menyaring guru yang memiliki napas ideologi Muhammadiyah yang kuat sekaligus mumpuni secara pedagogik.
Seleksi yang berlangsung pekan ini menitikberatkan pada wawancara mendalam. Isunya bukan hanya soal pintar matematika atau bahasa Inggris. Tapi sejauh mana calon guru mampu menerjemahkan nilai Al-Qur’an dan Hadis ke dalam ruang kelas yang dinamis.
"Saya ingin mengimplementasikan ilmu yang saya peroleh dalam dunia pendidikan, khususnya di SD Muhammadiyah 1 Majene, agar bisa memberi kontribusi nyata bagi perkembangan siswa," ujar salah satu peserta seleksi dengan nada mantap.
Peserta tersebut merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Makassar. Ia tampak ingin pulang ke rumah besar Muhammadiyah. Baginya, mengajar di sini adalah soal komitmen membentuk generasi yang berilmu dan berakhlak mulia. Sebuah idealisme yang barangkali terdengar klasik, namun makin langka di tengah gempuran pragmatisme dunia kerja saat ini.
Gaya wawancaranya pun menarik. Tidak kaku. Para penguji mengejar sampai ke akar: bagaimana cara menghadapi anak yang sulit belajar?
Jawaban para kandidat cukup seragam namun esensial. Pendekatan personal adalah kunci. Guru harus tahu mengapa si anak malas atau mengapa si anak murung. Memahami karakter siswa adalah langkah awal sebelum menyodorkan rumus-rumus di papan tulis.
"Dengan memahami karakter siswa, pembelajaran bisa berlangsung lebih efektif, menarik, dan tujuan pembelajaran dapat tercapai," jelas peserta tersebut saat menjawab cecaran pertanyaan tim seleksi.
Pihak sekolah sadar betul. Guru adalah ujung tombak. Jika ujungnya tumpul, visi besar Muhammadiyah untuk menciptakan masyarakat Islam yang berkemajuan hanya akan menjadi jargon di atas kertas. Maka, kompetensi pedagogik dan pemahaman nilai kemuhammadiyahan diposisikan setara. Tidak boleh ada yang timpang.
Melalui proses seleksi yang ketat ini, SD Muhammadiyah 1 Majene berharap mendapat guru yang profesional namun tetap membumi. Guru yang tidak hanya mengejar jam tayang mengajar, tapi juga menjadi teladan integritas bagi murid-muridnya.
Proses rekrutmen ini sekaligus menjadi penanda bahwa sekolah-sekolah di bawah naungan persyarikatan terus berbenah. Mencari talenta terbaik yang punya semangat "fastabiqul khairat" atau berlomba-lomba dalam kebaikan. Kita tunggu saja, sejauh mana para guru baru ini nanti mampu mewarnai wajah pendidikan di Majene dengan karakter Islami yang kuat namun tetap terbuka pada kemajuan zaman.
Sopir Mengantuk, Truk Ayam Pinrang-Pasangkayu Seruduk Rumah di Jalur Poros Majene-Mamuju
Artikel Terkait
Tanah Pura Belum Bersertifikat Puluhan Tahun, Legislator Leli Pariani Janji Kawal ke BPN
Naik Motor Lewat Jalan Ekstrem, Legislator Fathia Bawa Bantuan untuk Lansia Miskin di Pelosok Parigi Moutong
Reses di Wanamukti, Legislator Imam Muslihun Tawarkan Rumahnya sebagai Tempat Singgah Warga Dapil IV
Nelayan Parigi Tengah Terima 75 Jaket Pelampung dari Ketua Fraksi Gerindra DPRD Parigi Moutong
Arnol Aholai Serap Aspirasi di Parigi Tengah, Dari Masalah Banjir Hingga Ketahanan Pangan