• Kamis, 4 Juni 2026

Murid SD Tercebur saat Jembatan Ambruk di Mamasa, Warga Sigap Beri Pertolongan

.
Dwi Rahayu Putri, Sulawesi Today
- Sabtu, 5 Oktober 2024 | 14:30 WIB
Reaksi cepat warga menolong murid tercebur saat jembatan ambruk di Mamasa menunjukkan solidaritas, meski jembatan tua perlu perhatian segera.  #WargaSigap #InfrastrukturDesa #MamasaSulawesi #Jembatan (Dwi Rahayu Putri)
Reaksi cepat warga menolong murid tercebur saat jembatan ambruk di Mamasa menunjukkan solidaritas, meski jembatan tua perlu perhatian segera. #WargaSigap #InfrastrukturDesa #MamasaSulawesi #Jembatan (Dwi Rahayu Putri)

Sulawesitoday - Sebuah insiden mengejutkan terjadi di Desa Tadisi, Kecamatan Sumarorong, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Pada Jumat, 4 Oktober 2024, jembatan gantung sepanjang lebih dari 20 meter ambruk saat sejumlah murid sekolah dasar melintas. Walaupun beberapa murid sempat tercebur ke dalam sungai di bawahnya, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Reaksi cepat warga yang tinggal di sekitar lokasi kejadian menjadi kunci dalam menyelamatkan para murid. Kepala Desa Tadisi, Paulus Palullungan, mengonfirmasi bahwa warga sigap memberikan pertolongan segera setelah jembatan runtuh.

Baca Juga: Lewat Negosiasi, Polisi Berhasil Buka Akses Jalan dari Pemalangan Rp 1 Miliar di Dogiyai

"Di ujung sebelah (jembatan) ada rumah. Warga langsung menolong," ujar Paulus saat diwawancarai pada Sabtu, 5 Oktober 2024. Pernyataan ini menegaskan pentingnya kehadiran warga di sekitar lokasi untuk memberikan bantuan darurat dalam situasi tak terduga seperti ini.

Meskipun insiden ini tidak memakan korban, kekhawatiran tentang kondisi jembatan yang sudah tua muncul ke permukaan. Jembatan tersebut dibangun pada era Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), dan meskipun sudah usang, tidak ada perbaikan signifikan yang dilakukan selama bertahun-tahun. Paulus sendiri mengakui bahwa usia jembatan memang sudah tua dan memerlukan perbaikan besar-besaran. "Sudah tua, masih PNPM dulu. (Ukuran jembatan) lebih 20 meter," tambahnya.

Namun, menariknya, jembatan ini tidak dianggap sebagai jalur utama oleh warga setempat. Menurut Paulus, jembatan ini hanya merupakan jalan alternatif, dan penggunaannya tidak mempengaruhi aktivitas sehari-hari warga. "Itu hanya jalan alternatif, mungkin hanya selisih 50 meter saja kalau lewat jalan yang lain. Itu jalan kompas, ada atau tidak ada itu jembatan, tidak ada yang terhambat," jelas Paulus.

Meskipun usulan untuk merehabilitasi jembatan pernah disampaikan oleh masyarakat, Paulus mengakui bahwa biaya yang diperlukan untuk perbaikan jembatan gantung tersebut cukup besar. Bahkan, ia menegaskan bahwa perbaikan yang dibutuhkan bukan sekadar perbaikan ringan, melainkan perbaikan besar-besaran. "Kalau direhab, bukan rehab ringan, tapi rehab berat," pungkasnya.

Kejadian ini mengingatkan kita akan pentingnya perhatian terhadap infrastruktur desa, terutama yang sering digunakan oleh anak-anak dan warga dalam aktivitas sehari-hari. Tindakan sigap warga dalam menolong para murid menjadi contoh nyata bahwa solidaritas komunitas masih menjadi kekuatan besar dalam menghadapi bencana di daerah pedesaan. Namun, ke depan, tindakan preventif seperti perawatan rutin jembatan dan infrastruktur desa harus menjadi prioritas untuk menghindari tragedi yang lebih besar.

Editor: Dwi Rahayu Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini