Sulawesitoday - Debat publik yang seharusnya menjadi ajang pertarungan gagasan bagi para Calon Wakil Bupati (Cawabup) Bojonegoro 2024 berubah menjadi kekacauan. Pada Sabtu malam, 19 Oktober 2024, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bojonegoro terpaksa menghentikan acara lebih awal setelah terjadi ketegangan di atas panggung antara tim pasangan calon (paslon) nomor urut 01 dan 02.
Semua berawal ketika Farida Hidayati, cawabup dari paslon 01, ngotot agar dirinya ditemani oleh calon bupati (cabup) Teguh Haryono. Padahal, format debat kali ini sudah diatur hanya untuk para cawabup.
Baca Juga: Berani! Emak-Emak Naik Bangkai Paus dengan Daster dan Helm Bogo, Netizen: Kasta Tertinggi
“Apa salah saya berdiri di sini? Peraturan mana yang saya langgar?” sergah Teguh Haryono dengan nada emosional ketika diminta turun dari panggung. Pernyataan itu justru memicu keributan di antara penonton dan pendukung paslon 02, yang merasa aturan telah dilanggar.
Sebuah video yang diunggah oleh akun Instagram @berita_bojonegoro2 memperlihatkan ketegangan di lokasi. Dalam tayangan tersebut, Nurul Azizah, cawabup dari paslon 02, tampak berdiri sendiri di sudut panggung dengan senyum tenang, sementara Farida dan Teguh berada di podium bersama. Video ini viral, memancing beragam reaksi dari publik dan menambah panasnya suasana.
Ketua KPU Bojonegoro sempat mencoba menenangkan massa dan mencari solusi di tengah situasi yang semakin memanas. "Saya minta waktu 10 menit, jika tidak bisa berjalan lancar, saya mohon maaf sebesar-besarnya, acara malam ini akan saya hentikan," ujarnya dengan nada tegas. Namun, situasi tak kunjung terkendali, dan keputusan akhir pun diambil: acara dihentikan lebih awal.
Polemik mengenai format debat ini sebenarnya berakar dari perbedaan interpretasi aturan. Tim paslon 01 bersikeras bahwa debat harus dihadiri oleh cabup dan cawabup secara bersamaan, mengacu pada PKPU nomor 13 dan keputusan KPU tertanggal 24 September 2024.
Hasan Abrori, Ketua Tim Pemenangan paslon 01, menegaskan, “KPU harus konsisten. Debat pertama ini seharusnya tetap untuk pasangan calon.” Di sisi lain, tim paslon 02 menyebut aturan sudah jelas—debat tahap pertama dikhususkan bagi para cawabup saja.
Nurul Azizah sendiri, meski menjadi "korban" format yang diabaikan, tampak berbesar hati. "Tidak apa-apa jika Ibu Farida ingin ditemani, asal debatnya tetap antar cawabup," ucapnya dengan nada tenang, seperti menyindir tanpa menyulut emosi lebih lanjut. Pernyataan ini justru mendapat simpati dari banyak pihak yang menilai ketenangannya sebagai bentuk kedewasaan politik.
Namun, insiden ini tak hanya mengundang komentar dari tim sukses kedua paslon. Aparat keamanan pun sempat bersiaga penuh di lokasi untuk mencegah situasi berkembang menjadi lebih buruk. Beruntung, tidak terjadi insiden fisik, dan kedua belah pihak akhirnya ditenangkan.
Meskipun debat dihentikan, diskusi di media sosial justru semakin menggema. Banyak warganet mengkritik KPU karena dianggap tidak tegas dalam menerapkan aturan, sementara yang lain menuding paslon 01 sengaja mencari celah agar mendapatkan keuntungan politis. Apa pun alasannya, kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi KPU dan semua pihak yang terlibat agar kejadian serupa tidak terulang di sesi debat berikutnya.
Artikel Terkait
DPRD Bone Sulsel Ungkap Alasan Formasi PPPK 2024 Hanya Damkar dan Nakes, Tenaga Teknis Tidak Diusulkan!
Gempa 5.2 SR Guncang Halmahera: Warga di Labuha dan Pulau Obi Rasakan Guncangan, BMKG Peringatkan Potensi Gempa Susulan!
Kiper Timnas Maarten Paes Ucapkan Terima Kasih kepada Jokowi, Menghormati Peran Pemerintah dalam Olahraga
Tiaralstar Viral! Ibu Kerasukan Hiu, Warga Panik Minta Tumbal, Wisata Pantai Terancam—Benarkah Mitos Ini?
Berani! Emak-Emak Naik Bangkai Paus dengan Daster dan Helm Bogo, Netizen: Kasta Tertinggi