Sulawesitoday - Halmahera kembali diguncang gempa dengan kekuatan 5.2 SR pada Senin, 21 Oktober 2024, pukul 15:24 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan pusat gempa berada di laut, 55 kilometer barat daya Labuha, dengan kedalaman 10 kilometer. Selain Labuha, getaran juga terasa di Pulau Obi dengan intensitas MMI III, yang berarti guncangan ringan namun cukup membuat warga terkejut.
Sejumlah warga di Labuha menyebutkan mereka merasakan benda-benda kecil bergeser, dan sebagian langsung bergegas ke luar rumah.
“Awalnya cuma terasa seperti getaran biasa, tapi ternyata makin kuat. Saya langsung bawa keluarga ke luar rumah buat berjaga-jaga,” ujar Andi, salah satu warga Labuha. Meskipun tidak ada laporan kerusakan signifikan hingga saat ini, pengalaman ini membuat warga semakin waspada, mengingat gempa dengan kekuatan serupa dapat memicu gempa susulan.
Pulau Obi juga mengalami hal serupa. Warga di sana melaporkan kaca dan perabot rumah bergetar selama beberapa detik.
Rina, seorang warga setempat, mengatakan, “Kami sudah terbiasa dengan gempa kecil, tapi yang ini lebih terasa. Orang-orang mulai waspada dan banyak yang memutuskan untuk menunggu di luar sampai situasi benar-benar aman.”
Baca Juga: Sopir Bus Buana Trans Dikeroyok dan Ditikam di Mamuju Sulbar, Pelaku Cemburu Mantan Istri
BMKG mengingatkan potensi adanya gempa susulan, meski skalanya biasanya lebih kecil.
Gempa ini terjadi di zona yang memang aktif secara seismik, jadi masyarakat diimbau tetap tenang namun waspada.
Halmahera memang dikenal berada di jalur gempa aktif, mengingat posisinya yang berada di kawasan pertemuan lempeng tektonik.
Baca Juga: ODGJ Tewas Diduga Dicekik Sesama Pasien di Makassar, Dua Perawat Diamankan Polisi
Warga yang tinggal di kawasan pesisir juga diperingatkan untuk memantau informasi terbaru, meskipun BMKG memastikan bahwa gempa ini tidak berpotensi tsunami. Namun, pengalaman beberapa kali gempa membuat masyarakat lokal selalu bersiap untuk skenario terburuk. Saat ini, pemerintah daerah sedang berkoordinasi untuk memastikan tidak ada gangguan besar terhadap aktivitas masyarakat sehari-hari.
Dalam beberapa tahun terakhir, wilayah Maluku Utara kerap mengalami gempa ringan hingga sedang. Walaupun tidak semua gempa menyebabkan kerusakan, trauma terhadap bencana alam membuat masyarakat lebih sensitif terhadap setiap pergerakan bumi.
Baca Juga: Kenaikan UMP Sulsel 2025, Apindo Minta Sesuaikan dengan Pertumbuhan Ekonomi, Bukan Tekanan Buruh
Artikel Terkait
Simpatisan Suhartina Bohari Kawal Pemeriksaan di Bawaslu, Tegaskan Tidak Terlibat Kampanye
Kenaikan UMP Sulsel 2025, Apindo Minta Sesuaikan dengan Pertumbuhan Ekonomi, Bukan Tekanan Buruh
ODGJ Tewas Diduga Dicekik Sesama Pasien di Makassar, Dua Perawat Diamankan Polisi
Sopir Bus Buana Trans Dikeroyok dan Ditikam di Mamuju Sulbar, Pelaku Cemburu Mantan Istri
DPRD Bone Sulsel Ungkap Alasan Formasi PPPK 2024 Hanya Damkar dan Nakes, Tenaga Teknis Tidak Diusulkan!