• Selasa, 21 Juli 2026

Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi per 1 November 2024: Pertamax Green, Turbo, Dexlite Naik

.
Amirullah, Sulawesi Today
- Jumat, 1 November 2024 | 19:54 WIB
Dampak kenaikan harga BBM non-subsidi 1 November 2024, masyarakat harus beradaptasi di tengah lonjakan harga Pertamax Green, Turbo, dan Dexlite. #KenaikanHargaBBM #EkonomiMasyarakat #BBMNonSubsidi (Amirulah)
Dampak kenaikan harga BBM non-subsidi 1 November 2024, masyarakat harus beradaptasi di tengah lonjakan harga Pertamax Green, Turbo, dan Dexlite. #KenaikanHargaBBM #EkonomiMasyarakat #BBMNonSubsidi (Amirulah)

Sulawesitoday - Kenaikan harga BBM non-subsidi kembali terjadi per 1 November 2024. Pertamina, dalam pengumuman terbarunya, menyatakan bahwa sejumlah produk BBM non-subsidi mengalami penyesuaian harga yang tentunya memicu reaksi di masyarakat.

Bagi banyak konsumen, terutama kalangan yang bergantung pada jenis BBM non-subsidi, kenaikan ini bukan sekadar angka. Ini adalah soal bagaimana masyarakat harus menyesuaikan diri di tengah tekanan harga yang semakin merangkak naik.

Baca Juga: Gunawan Sadbor dan Timnya Ditangkap Terkait Judi Online, Polisi Bongkar Jaringan di Balik Joget Viral

Mari kita lihat lebih detail: Pertamax Green 95 yang sebelumnya dipatok pada harga Rp12.700 per liter kini naik menjadi Rp13.150 per liter. Kenaikan serupa juga terjadi pada Pertamax Turbo yang meningkat dari Rp13.250 menjadi Rp13.500 per liter, sementara Pertamina Dex mengalami perubahan harga dari Rp13.150 menjadi Rp13.440 per liter.

Tak ketinggalan, Dexlite kini dijual di harga Rp13.050 dari sebelumnya Rp12.700 per liter. Menariknya, harga Pertamax (RON 92) tetap bertahan di angka Rp12.100 per liter. Begitu pula dengan BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar, yang harganya tidak berubah di level Rp10.000 dan Rp6.800 per liter.

Baca Juga: Google Terancam Denda Tak Masuk Akal di Rusia, 2 Undesillion Rubel atau Kehilangan Pasar YouTube

Kenaikan harga ini tentu tidak lepas dari regulasi pemerintah, tepatnya Keputusan Menteri ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022 yang menjadi landasan penyesuaian harga BBM non-subsidi di Indonesia. Meski alasan regulasi dan fluktuasi harga minyak dunia menjadi dasar penyesuaian ini, dampaknya langsung terasa pada masyarakat yang mengandalkan bahan bakar jenis ini.

Apalagi bagi mereka yang berada di lapisan ekonomi menengah ke bawah, perubahan ini bisa memengaruhi anggaran belanja bulanan secara signifikan.

Baca Juga: Dua Anggota Komcad di Makassar Ditahan Usai Rusak Mobil Warga, Kesalahpahaman di Jalan yang Berujung Fatal

"Bagi saya yang sehari-hari mengandalkan kendaraan pribadi untuk bekerja, kenaikan ini sangat terasa. Harga BBM naik, biaya transportasi otomatis ikut naik," ujar Budi, seorang pekerja kantoran di Jakarta. Cerita Budi ini barangkali mewakili jutaan pengguna lainnya. Setiap kali harga BBM naik, terutama yang non-subsidi, berbagai sektor ikut terkena dampaknya.

Misalnya, sektor logistik dan transportasi yang sering menggunakan Dexlite atau Pertamina Dex, mungkin terpaksa menaikkan tarif untuk mengimbangi kenaikan harga BBM.

Baca Juga: Angin Kencang Renggut Nyawa dan Rusak Puluhan Rumah di Sidrap, Apa Langkah BNPB Selanjutnya?

Dampak ini juga tidak hanya terbatas pada pengguna langsung. Kenaikan harga BBM umumnya berdampak pada harga barang dan jasa lainnya, seiring biaya distribusi yang turut meningkat. Bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UKM), biaya operasional menjadi lebih berat, dan mereka mungkin akan sulit untuk menekan harga tanpa mengorbankan margin keuntungan.

"Kita mau nggak mau harus menambah biaya pengiriman, dan dampaknya langsung ke harga jual," kata Rina, pemilik toko online yang bergerak di bidang fashion.

Halaman:

Editor: Amirullah

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini