Sulawesitoday - Sembilan hari berlalu. Namun luka psikologis belum sembuh. Sebagian siswa SMAN 72 Jakarta masih terjebak dalam bayang-bayang trauma pascainsiden ledakan yang mengguncang sekolah mereka pada 7 November 2025 silam.
Kepala Sekolah SMAN 72 Jakarta, Tetty Helena Tampubolon, mengungkapkan fakta mengejutkan. Kondisi mental sejumlah pelajar masih rapuh. Asesmen psikologis berkelanjutan masih berjalan hingga kini, melibatkan tidak kurang dari lima lembaga berbeda.
"Dalam proses asesmen masih dilakukan baik dari psikolog Angkatan Laut maupun dari Dinas PPAP, Kemensos, Dinas Kesehatan, HIMSI, dan Dikdasmen memberikan perhatian kepada anak-anak," terang Tetty saat ditemui di Kantor Wali Kota Jakarta Utara, Sabtu kemarin.
Pernyataan itu disampaikan dengan nada hati-hati. Seolah memahami betapa rentannya situasi saat ini.
-
Mengapa Pembelajaran Daring Masih Berlanjut?
Keputusan melanjutkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bukan tanpa alasan kuat. Pihak sekolah tengah menunggu restu dari para orang tua siswa sebelum berani membuka kembali kelas tatap muka, bahkan dalam format hybrid sekalipun.
"Hari Senin itu yang pasti masih PJJ," tegas Tetty. Kalimatnya singkat namun penuh kepastian.
Transisi menuju pembelajaran hybrid memang tengah dipertimbangkan. Namun keputusan final bergantung sepenuhnya pada persetujuan wali murid. "Masih kita pantau juga dan kita pastikan dengan orang tuanya apakah sudah boleh ambil PJJ atau boleh hybrid. Jadi harus kami pastikan orang tuanya menyetujui," lanjut Tetty dengan nada diplomatis.
Kekhawatiran para orang tua bukan isapan jempol belaka. Ketakutan akan kemungkinan insiden serupa terulang masih sangat nyata. "Orang tua murid yang terutama memberikan restu karena mereka juga kan masih takut-takut, jangan-jangan ada kejadian lagi," sambung Tetty, mengekspresikan kegelisahan yang juga dirasakannya sebagai kepala sekolah.
Kebijakan ini mencerminkan dilema klasik antara hak pendidikan dan jaminan keselamanan. Sebuah pertaruhan yang tidak mudah diambil.
-
Apakah Siswa Rindu Kembali ke Sekolah?
Meski trauma masih membayangi, Tetty mengamati fenomena menarik. Sebagian siswa mulai merindukan suasana sekolah. Kerinduan terhadap rutinitas belajar normal mulai terasa.
"Keliatan-nya anak-anak sudah mulai rindu sama sekolah ya," ujar Tetty dengan senyum tipis. Namun di balik optimisme itu, ia segera menambahkan, "Tapi kalau hasil yang pasti, yang resmi belum, hasil penyelidikan juga belum."
Pernyataan tersebut menyiratkan kewaspadaan berlapis. Pihak sekolah tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan tanpa data konkret dari hasil asesmen psikologis yang masih berlangsung. Proses pemulihan mental tidak bisa dipaksakan. Butuh waktu, kesabaran, dan pendampingan profesional.
Hingga saat ini, tim psikolog dari berbagai institusi terus memantau perkembangan kondisi mental para siswa. Pendekatan komprehensif diterapkan untuk memastikan setiap anak mendapat penanganan sesuai kebutuhan individual mereka.
-
Bagaimana Kondisi Pelaku yang Masih Anak di Bawah Umur?
Sementara proses pemulihan psikologis siswa berjalan, nasib pelaku ledakan yang berstatus anak berkonflik dengan hukum (ABH) juga menjadi sorotan. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto mengonfirmasi perkembangan terbaru kondisi pelaku.