Sulawesitoday - Kelalaian pengelolaan kolam pengendapan milik perusahaan tambang di perbatasan Palu dan Donggala diduga kuat menjadi pemicu utama banjir bandang yang menggerus permukiman warga di Kelurahan Watusampu.
"Kami menemukan fakta di lapangan bahwa kolam pengendapan atau settle pond beberapa perusahaan tidak dirawat dengan baik," ujar Wali Kota Palu Hadianto Rasyid saat menyusuri batas alam kedua wilayah, Sabtu, 30 Mei 2026.
Aliran air deras saat hujan tumpah melewati jalan akses kendaraan yang kini beralih fungsi menjadi jalur utama air menuju rumah warga.
Baca Juga: Sisa Bom Perang Dunia Kedua Meledak di Pesisir Biak, Korban Hilang Masih Dicari
Dampaknya sangat fatal karena terjangan air memicu abrasi hebat hingga merubuhkan dapur salah satu rumah milik warga setempat.
Pemerintah Kota Palu bergerak cepat menyikapi kondisi darurat ini dengan langsung menerjunkan tim gabungan dari berbagai dinas teknis ke lokasi bencana.
Para kepala dinas lingkungan hidup, pekerjaan umum, perumahan, sosial, hingga badan penanggulangan bencana daerah berjalan kaki menyisir wilayah RT 01 Kelurahan Watusampu.
Langkah tegas kini diambil pemerintah untuk meminta pertanggungjawaban dari para pelaku usaha yang beroperasi di wilayah hulu tersebut.
Otoritas kota mengagendakan pemanggilan resmi terhadap manajemen korporasi, termasuk tiga perusahaan yang berbasis di Donggala namun memakai jalur transportasi Kota Palu.
Pertemuan strategis ini dijadwalkan berlangsung di rumah jabatan wali kota untuk membahas solusi konkret jangka panjang bagi keselamatan warga setempat.
Baca Juga: Korban Rugi Miliaran, Pemilik WO Marwah Malah Sesumbar Bisa Bangun Bisnis Baru Jika Bebas
"Sejumlah perusahaan tambang akan kita hadirkan untuk audiensi bersama di rumah jabatan pada hari Selasa, 2 Juni 2026," kata Hadianto tegas.
Sinergi dari sektor usaha sangat mendesak demi memulihkan ekosistem lingkungan yang rusak akibat aktivitas pengerukan material secara masif.