berita

Rekreasi Berujung Duka! Siswa SMP Islam Terpadu Tewas di Sungai Kunyi Polman, Sekolah dan Penanggung Jawab Diinvestigasi

Jumat, 18 Oktober 2024 | 18:26 WIB
Investigasi dilakukan atas tanggung jawab sekolah terkait izin rekreasi yang berujung tragedi di Sungai Kunyi. Protokol keamanan dipertanyakan. #TragediRekreasi #InvestigasiSekolah #KeselamatanSiswa (Dwi Rahayu Putri)

Sulawesitoday - Tragedi terjadi saat tiga siswa dari SMP Islam Terpadu di Kota Parepare, Sulawesi Selatan, tenggelam di Sungai Kunyi, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, pada Jumat (18/10). Satu di antara mereka, Muhammad Naufal (15), meninggal dunia, sementara dua lainnya, Irlan (17) dan Ni’ma (15), berhasil diselamatkan dan kini dirawat di puskesmas setempat.

Sesuai pernyataan Kapolsek Polewali, AKP Frans Geradus, insiden ini terjadi tanpa pengawasan guru, menjelang salat Jumat, saat ketiga siswa ini memutuskan untuk berenang di sungai yang ternyata memiliki kedalaman mencapai tiga meter.

Baca Juga: Operasi Zebra 2024 Hari ke Enpat: Korban Tewas Turun 50%, Pelanggaran Manual Naik 23%! Jangan Abaikan Aturan Lalu Lintas

“Ada tiga siswa yang tenggelam. Satu meninggal dunia sudah di rumah sakit, dua di puskesmas sekarang dalam keadaan sadar,” ungkap Frans dalam wawancaranya kepada wartawan.

Yang menjadi pusat perhatian saat ini adalah tanggung jawab sekolah atas kegiatan tersebut. Sebuah pertanyaan besar muncul: Apakah pihak sekolah sudah memenuhi standar keselamatan yang diperlukan ketika membawa siswa dalam acara rekreasi? Apalagi, para siswa diduga tidak tahu bahaya yang ada di sungai tersebut.

Baca Juga: KRAK Sulteng Laporkan Dugaan Tindak Pidana Perusahaan Sawit dan Proyek Jalan, Kejati Harus Bertindak Cepat!

Frans mengungkapkan, Muhammad Naufal, korban yang meninggal, sebenarnya tidak bisa berenang dan saat itu sedang berusaha menolong dua temannya yang lebih dulu tenggelam.

"Mungkin karena spontan mau menolong temannya, sehingga informasi dari teman-temannya, ternyata dia tidak bisa berenang juga,” ujar Frans. Ini menambah kompleksitas dari kecelakaan ini—sebuah tindakan heroik dari seorang remaja yang pada akhirnya berujung tragis.

Baca Juga: Polisi Dalami Kasus Ancaman Pembunuhan oleh Paman di Gorontalo, Bukti Rekaman dan Chat Jadi Kunci!

Penekanan kini diarahkan pada investigasi yang segera dilakukan oleh pihak kepolisian untuk menggali lebih dalam. Penyelidikan akan mencakup peran guru pendamping, termasuk apakah kegiatan tersebut telah melalui prosedur yang benar, termasuk izin dari orang tua.

"Kami akan minta semua keterangan, baik dari pihak sekolah, penanggung jawabnya, termasuk apakah ada izin dari orang tua semua siswa yang hadir di sini," tambah Frans.

Baca Juga: Kenaikan UMP Sulsel 2025 Disuarakan: KSPSI Minta Minimal 10% untuk Mengimbangi Lonjakan Biaya Hidup

Kasus ini memunculkan banyak pertanyaan tentang bagaimana seharusnya sekolah dan penanggung jawab merencanakan dan mengawasi kegiatan luar kelas. Apakah pengawasan sudah memadai? Apakah siswa diberikan pengarahan tentang keselamatan sebelum melakukan aktivitas yang berisiko? Sebagai jurnalis, sudah menjadi tugas kita untuk mengangkat isu-isu semacam ini, agar kesalahan serupa tidak berulang di masa depan.

Secara reguler, sekolah biasanya diharapkan memiliki langkah-langkah keselamatan yang ketat, terlebih untuk acara yang melibatkan siswa di luar area sekolah. Namun, insiden ini mengungkapkan adanya kelalaian yang berpotensi fatal. Dengan kedalaman sungai yang tak terduga dan kurangnya pengawasan, tragedi seperti ini bisa saja dihindari.

Halaman:

Tags

Terkini