Sulawesitoday - Inspeksi mendadak mengguncang ketenangan. Proyek gedung perpustakaan Parigi Moutong kini dalam pengawasan ketat. Tim gabungan Inspektorat Daerah dan Kejaksaan Negeri turun langsung. Lokasi: kompleks perkantoran jalur dua Parigi, Kelurahan Kampal. Waktu kunjungan: Kamis, 2 Oktober 2025.
Sakti Lasimpala membuka fakta mengejutkan. Kepala Inspektorat Daerah itu mengungkap angka kritis. Progres pembangunan baru 57 persen. Sisa waktu pengerjaan tinggal 77 hari. Total kontrak seharusnya 210 hari kalender. Hitungan sederhana menunjukkan keterlambatan mengintai.
"Sepuluh proyek strategis nasional sedang kami awasi," ujar Sakti dengan nada tegas. "Perpustakaan ini salah satunya. Laporannya langsung ke KPK."
Deviasi memang masih positif. Kisaran dua hingga lima persen. Namun waktu tidak berpihak. Tekanan semakin menguat setiap hari.
-
Mengapa Ancaman Teguran KPK Begitu Serius?
Komisi Pemberantasan Korupsi bukan sembarang lembaga. Teguran mereka punya konsekuensi berat. Proyek strategis nasional masuk radar khusus. Keterlambatan bisa memicu investigasi lebih dalam. Pertanyaannya sederhana: ada apa di balik lambatnya progres?
"Kalau sampai terlambat, resikonya teguran KPK," Sakti memperingatkan dengan serius. "Makanya kami dorong percepatan. Harus selesai tepat waktu."
Audit probity menjadi instrumen utama. Metode ini mengidentifikasi potensi masalah hukum. Sebelum skandal meledak di permukaan. Tim pemeriksa tidak menemukan kerusakan signifikan. Spesifikasi pekerjaan masih sesuai kontrak. Tapi waktu tetap menjadi musuh terbesar.
Inspektorat Parigi Moutong akan memanggil rekanan. CV. Arawan dijadwalkan hadir 3 Oktober 2025. Agenda: memaparkan strategi percepatan. Bukan permintaan biasa. Ini perintah dengan urgensi tinggi.
"Setiap minggu harus ada peningkatan," tambah Sakti dengan tegas. Pengawasan berlanjut hingga masa kontrak berakhir. Target akhir: 14 Desember 2025.
-
Bagaimana Strategi Percepatan yang Diterapkan Kontraktor?
Ari Anggora angkat bicara. Pelaksana proyek ini membuka kartu. Pekerjaan struktur beton hampir tuntas. Hanya tersisa pengecoran satu lantai. Tahap kritis sudah terlewati.
"Lantai dua sedang tahap pemasangan beton," jelas Ari dengan optimis. "Target selesai pekan ini. Material sudah ready."
Logistik menjadi kunci percepatan. Sebagian besar material didatangkan dari Palu. Semen dipasok dari Parigi. Rantai pasokan terkelola dengan baik. Tidak ada hambatan berarti.
Pekerjaan non-struktur masih berlangsung. Plafon, keramik, instalasi listrik dalam proses. Tahap finishing memerlukan ketelitian ekstra. Tapi jadwal tetap ketat.
Gedung perpustakaan ini bukan sembarang bangunan. Fasilitas layanan publik strategis. Masyarakat Parigi Moutong menanti kehadirannya. Harapan tinggi menggantung di setiap pengecoran beton.
Artikel Terkait
Punya IPR Belum Cukup! Koperasi Tambang di Sulteng Harus Siapkan KTT dan Dokumen Teknis Dulu
Apa Fungsi Kepala Teknik Tambang yang Jadi Syarat Wajib IPR Sulteng, Gagal Sertifikasi 6 Bulan Harus Cari dari Luar
KPK Tetapkan Staf Ahli Mensos Tersangka, Korupsi Bansos Beras PKH 2020 Rugikan Negara Rp200 M
Dua Warga Gugat Pensiun Seumur Hidup DPR ke Mahkamah Konstitusi, Singgung Keadilan untuk Rakyat Biasa
Kebijakan Penghapusan Tunggakan BPJS Kesehatan Puluhan Triliun Segera Berlaku - Peserta Bisa Mulai Iuran Baru Tanpa Beban Utang Lama