Yang membuatnya heran, SCM langsung dikeluarkan sebelum surat peringatan 1 hingga 3 diterbitkan. "Kok langsung SCM pak? Prosedurnya harusnya bertahap," protesnya keras.
-
Bisakah Stanley Kejar Deadline 14 Desember 2025?
Stanley mengaku pekerjaan tersisa sekitar 7 persen saja. Ia yakin bisa menyelesaikan semua sebelum batas akhir. Bahkan ia hanya minta tambahan waktu 10 hari sebagai antisipasi. Ia siap dengan konsekuensi denda keterlambatan.
"Saya yakin bisa selesai pak. Karena saya benar dalam pekerjaan ini," tegasnya penuh percaya diri. Ia meminta pekerjaannya dicek langsung di lapangan untuk buktikan keseriusan.
Soal kaca kontroversial itu, Stanley tidak mempermasalahkan pemasangannya. "Saya tidak permasalahkan kaca itu pak. Cuman demi keselamatan saja," jelasnya sambil tekankan pentingnya keamanan konstruksi.
Ia bahkan sudah siapkan gambar desain alternatif kaca dengan bingkai lebih kuat dan tahan lama. "Ini bisa lebih murah juga. Anggaran sisa bisa dialihkan ke pekerjaan lain," usulnya sambil tunjukkan sketsa perbandingan.
Namun Sakti tetap bersikeras. Baginya, mengubah desain sama saja menghilangkan keunikan gedung perpustakaan yang sudah dapat apresiasi tim pusat. "Kalau diganti, keunikannya hilang begitu saja," tegasnya tidak mau kompromi.
Hingga kini, kaca pabrikan yang hanya tersedia di Surabaya belum dipesan pelaksana. Kondisi ini membuat risiko keterlambatan makin tinggi mengingat waktu tempuh pengiriman dan pemasangan butuh presisi tinggi. Namun Stanley sebut pemesanan hingga pengantaran cukup dua minggu saja.
Besok, rapat krusial akan digelar antara kontraktor dan Dinas Perpustakaan. Ini mungkin kesempatan terakhir mencari jalan tengah sebelum guillotine pemutusan kontrak turun.
Stanley berharap ada titik temu. Ia siap pasang kaca sesuai permintaan asal ada pihak yang mau tanggung jawab hitam di atas putih jika terjadi kecelakaan konstruksi. "Saya tidak ingin tanggung resiko dari perencanaan yang menurut saya ada deviasi kesalahan," katanya gamblang.
Sakti juga tidak gentar dengan tekanan. "Mereka pakai orang-orang hebat untuk tekan dinas. Saya tidak suka ditekan. Kalau begitu justru makin tidak bagus," pungkasnya dengan nada keras.
Proyek perpustakaan Parimo kini seperti kapal yang berlayar di tengah badai politik lokal. Di satu sisi, ada tuntutan transparansi dan akuntabilitas dari PPK yang berusaha menjaga integritas prosedur. Di sisi lain, ada desakan dari pejabat tinggi yang mengatasnamakan pengawasan dan kepentingan daerah.
Stanley sang kontraktor terjepit di tengah. Ia harus memenuhi standar kualitas yang mungkin berisiko tinggi, sementara pencairan dananya terhambat birokrasi yang rumit. Waktu terus berdetak. Deadline tinggal hitungan hari.
Di ujung perdebatan ini, rakyat Parimo yang menanti gedung perpustakaan baru sebagai pusat literasi daerah. Akankah gedung itu berdiri dengan sempurna? Atau justru menjadi monumen kegagalan koordinasi birokrasi?
Waktu akan menjawab. Sementara itu, polemik intervensi vs pengawasan masih bergulir tanpa titik temu yang jelas.
Baca Juga: Proyek Gedung Perpustakaan Parimo Terancam Putus Kontrak Gara-Gara Kaca, PPK vs Kontraktor
Artikel Terkait
Siklon Koko Mengintai, Operasi Modifikasi Cuaca Jadi Andalan Pemerintah Hadapi Banjir dan Longsor di Sumatera
Wali Kota Sibolga Terisolasi 3 Hari di Tengah Longsor, Jaringan Mati, 8 Orang Tewas, Tim SAR Kesulitan Cari
Karyawan Pialang Asuransi Dipecat Gara-Gara Tumbler Hilang di KRL, Curhatan Medsos Berujung PHK
Proyek Gedung Perpustakaan Parimo Terancam Putus Kontrak Gara-Gara Kaca, PPK vs Kontraktor
Kemenhub Diam-Diam Cabut Izin Bandara IMIP Sejak Oktober, Jauh Sebelum Polemik Mencuat