Pembakaran talang oleh satgas memang langkah awal. Tapi pertanyaannya: lalu apa? Apakah pelaku ditangkap? Apakah ada proses hukum lanjutan? Atau hanya berhenti di situ saja?
Masyarakat Desa Tombi berharap lebih dari sekadar aksi simbolis. Mereka menuntut penegakan hukum yang konsisten. Tegas terhadap siapa pun. Tanpa pandang bulu. Tanpa kompromi.
Pemerintah daerah dan aparat penegak hukum harus turun tangan secara serius. Bukan hanya menertibkan alat. Tapi juga memproses hukum para aktor di baliknya. Haji Anjas, Agus, Yunus, dan siapa pun yang terlibat dalam penguasaan lahan tambang ilegal harus dimintai pertanggungjawaban.
Upaya konfirmasi kepada Haji Anjas melalui nomor WhatsApp yang beredar belum membuahkan hasil. Hingga berita ini diturunkan, tak ada tanggapan. Keheningan yang penuh makna. Atau mungkin strategi menghindar dari sorotan publik?
Ke Mana Arah Masa Depan Desa Tombi?
Desa Tombi kini berdiri di persimpangan. Satu jalan menuju penegakan hukum dan pemulihan lingkungan. Jalan lain menuju kehancuran ekologis dan ketidakadilan sosial yang semakin dalam.
Aktivitas pertambangan ilegal di wilayah ini bukan hanya soal pelanggaran administratif semata. Ini adalah cerminan dari lemahnya pengawasan negara. Dari mudahnya oknum-oknum kuat menguasai sumber daya alam tanpa izin. Dari hilangnya kedaulatan rakyat atas tanah mereka sendiri.
Masyarakat tak bisa lagi menunggu. Mereka butuh kepastian. Butuh keadilan. Dan yang paling penting, mereka butuh lingkungan yang lestari untuk anak cucu mereka kelak.
Kabupaten Parigi Moutong, sebagai pemegang otoritas wilayah, memiliki tanggung jawab besar. Bukan hanya menghentikan aktivitas ilegal. Tapi juga memastikan bahwa kekayaan alam dikelola secara adil, berkelanjutan, dan untuk kesejahteraan seluruh rakyat.
Pertanyaannya kini: akankah janji penegakan hukum hanya tinggal janji? Ataukah kali ini berbeda? Desa Tombi menunggu. Indonesia menunggu. Dan sejarah akan mencatat siapa yang berpihak pada keadilan—dan siapa yang memilih diam.
Artikel Terkait
Banjir Bandang Terjang Guci, Jejak Proyek Mangkrak PLTP di Gunung Slamet Kembali Disorot
Puasa Tinggal Hitungan Hari, Warga Desa Sekumur Curhat Kekurangan Alat Ibadah ke Istri Gubernur Aceh
Tangisan Hati Anak Aceh: Minta Presiden Prabowo Turunkan Alat Berat dan Kirim Sepatu Boot
Oknum Pilih-Pilih Kayu Berkualitas, Warga Aceh Tamiang Geram Pasca Banjir
Gempa M5,6 Guncang Maluku Utara, BMKG: Akibat Deformasi Lempeng Laut Maluku