Sulawesitoday - Bencana belum usai. Luka belum kering. Namun sebagian pihak justru sibuk berburu keuntungan. Inilah realitas pahit yang kini dihadapi warga Aceh Tamiang setelah banjir bandang meluluhlantakkan pemukiman mereka.
Sebuah video protes viral memperlihatkan kekesalan mendalam masyarakat setempat. Rekaman yang diunggah akun TikTok @Hot Topic pada Minggu, 21 Desember 2025 itu menampilkan aktivitas mencurigakan. Oknum tertentu diduga hanya mengangkut gelondongan kayu yang sudah diberi tanda nomor.
Kayu-kayu lain? Dibiarkan begitu saja. Berserakan di tengah lumpur dan puing-puing rumah warga.
Kemarahan pun meledak. Warga menilai ini bukan upaya pembersihan lingkungan. Melainkan praktik tebang pilih yang memanfaatkan situasi darurat. Kayu bernomor tersebut diduga merupakan kayu berkualitas tinggi dengan nilai jual menggiurkan. Sementara kayu biasa yang juga menghalangi akses jalan dan pemukiman, diabaikan total.
Apa yang Sebenarnya Terjadi di Lapangan?
Dari rekaman yang beredar, tampak jelas pola pengangkutan yang tak lazim. Truk-truk datang bukan untuk membersihkan seluruh material kayu sisa banjir. Mereka datang dengan misi spesifik: mengamankan kayu-kayu premium yang sudah ditandai sebelumnya.
Seorang warga melontarkan sindiran halus namun menusuk. "Kalau bisa janganlah yang pakai nomor aja yang diangkat," ujarnya dalam video. Nada bicaranya tenang, tapi sarat kekecewaan. "Kalau bisa semua lah diangkat," tambahnya, berharap pembersihan dilakukan secara menyeluruh.
Harapan sederhana itu sebenarnya wajar. Warga hanya ingin lingkungan mereka kembali layak huni. Jalan-jalan bisa dilewati. Halaman rumah bisa dibersihkan. Kehidupan normal bisa segera pulih.
Namun kehadiran oknum pengangkut kayu justru memperparah luka. Mereka datang bukan sebagai penolong. Melainkan sebagai pemangsa peluang di tengah kepedihan.
Mengapa Amarah Warga Memuncak?
Ketegangan di lokasi banjir semakin memanas seiring berjalannya waktu. Sejumlah ibu-ibu yang menyaksikan langsung praktik tersebut tidak lagi sanggup menahan emosi. Mereka menumpahkan kekesalan dengan bahasa yang lebih keras.
Sumpah serapah terlontar. Amarah yang tertahan berhari-hari akhirnya meledak. Para ibu ini melihat tindakan oknum sebagai bentuk keserakahan yang tak berperikemanusiaan. "Jangan rakus kalian, nanti diazab oleh Allah!" tegas salah seorang warga dengan suara bergetar penuh amarah.
Ungkapan itu bukan sekadar ancaman. Melainkan cerminan rasa sakit hati yang mendalam. Bagaimana mungkin di saat mereka kehilangan rumah, harta, dan bahkan mungkin anggota keluarga, ada pihak yang justru menjadikan musibah sebagai ladang bisnis?
Fenomena ini mengingatkan pada istilah "disaster capitalism" – praktik mengambil untung dari situasi bencana. Yang dalam konteks lokal, warga menyebutnya sebagai ulah "mafia kayu". Oknum yang bergerak terorganisir untuk mengeruk keuntungan dari penderitaan orang lain.
Artikel Terkait
Viral Video Anak Aceh Tolak Uang Relawan, Bagi Rambutan Gratis di Tengah Banjir
Banjir Lumpur Sapu Pancuran 13 Guci, Warganet Sorot Aktivitas di Lereng Slamet
Banjir Bandang Terjang Guci, Jejak Proyek Mangkrak PLTP di Gunung Slamet Kembali Disorot
Puasa Tinggal Hitungan Hari, Warga Desa Sekumur Curhat Kekurangan Alat Ibadah ke Istri Gubernur Aceh
Tangisan Hati Anak Aceh: Minta Presiden Prabowo Turunkan Alat Berat dan Kirim Sepatu Boot