Sopir Mobil Agya Hanya Driver Online Apes
Lihat postingan ini di Instagram
Sulawesitoday - Jagat media sosial sempat mendidih. Rekaman CCTV itu diputar berulang-ulang: seorang bocah SMP, NZK (13), masuk ke mobil Toyota Agya. Ada pria dewasa di sana. Ada juga remaja pria. Narasi "penculikan" pun terbang liar ke mana-mana. Lima hari orang tuanya di Kampung Bojong Tangkalak tidak bisa tidur nyenyak.
Senin malam kemarin, drama itu berakhir. Bukan di markas penjahat kelas kakap, tapi di sebuah musala sekolah di Kota Bandung.
Polisi bergerak cepat. Begitu nomor polisi D 1544 UAT terlacak, tabir gelap itu mulai tersingkap. Ternyata, dugaan publik meleset sedikit. Pria dewasa yang wajahnya sempat dicap sebagai penculik kawakan itu hanyalah seorang sopir angkutan online. Dia hanya menjalankan tugas: mengantar penumpang.
"Perlu kami jelaskan bahwa benar telah terjadi satu kejadian yang ramai di media sosial dianggap penculikan. Korban dan orang yang diduga bersama korban sudah kami temukan," ujar Kapolres Cimahi, AKBP Niko N. Adi Putra, Selasa (14/4).
Pemeran utamanya ternyata masih bau kencur. Inisialnya D. Umurnya baru 15 tahun. Remaja tanggung inilah yang membawa NZK pergi sejak 8 April lalu. Kini D harus berhadapan dengan penyidik Satreskrim Polres Cimahi untuk menjelaskan motif di balik aksi nekatnya membawa kabur anak orang selama hampir seminggu.
"Jadi terduga pelaku berinisial D, 15 tahun, saat ini masih kami periksa," tambah Niko.
Kini NZK sudah dalam pelukan pihak berwenang. Dia ditangani Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA). Psikisnya harus dijaga. Anak umur 13 tahun tentu punya beban mental tersendiri setelah lima hari "menghilang" dari rumah.
Kasus ini jadi pelajaran mahal buat netizen. Bahwa rekaman CCTV tidak selamanya bercerita tentang kejahatan terencana oleh orang dewasa. Kadang, itu hanya soal kenekatan remaja yang salah jalan, dan seorang sopir online yang kebetulan lewat di jam yang salah.
Pengecekan CCTV memang sakti. Dari sana polisi menelusuri jejak roda Agya itu hingga ke sudut sekolah di Bandung. Si sopir online pun bisa bernapas lega karena namanya dibersihkan. "Orang dewasa yang di video itu dia hanya sopir, jadi tidak ada kaitannya dengan pelaku," tegas Kapolres.
Begitulah. Masalah selesai di musala, tapi proses hukum tetap jalan terus di kantor polisi. Keselamatan anak memang harga mati, tapi kehati-hatian dalam menyebar informasi di medsos juga jangan sampai mati.
Hukum Jalanan di Rokan Hilir, Massa Segel Tempat Hiburan Saat Aparat Dianggap Tidur
Artikel Terkait
Frekuensi Bencana Tinggi, BPBD Parigi Moutong Perkuat Amunisi Lewat Dukungan BNPB
Hukum Jalanan di Rokan Hilir, Massa Segel Tempat Hiburan Saat Aparat Dianggap Tidur
Gebrakan Bupati AST di Ruang Pola, Pejabat Baru Majene Dilarang Loyo - Wajib Inovasi
Matolele Hingga Bolano Utara, Tak Ada Lagi Cerita Cari Sinyal ke Atas Bukit
Kakanwil Kemenkum Sulteng: Jadikan Hukum Adat Juru Damai Non-Litigasi di Sulawesi Tengah