Sulawesitoday - Ruang Pola Kantor Bupati Majene mendadak riuh, Senin pagi (13/4). Ada yang wajahnya sumringah. Ada yang tampak tegang. Di sana, Bupati Andi Achmad Syukri Tammalele berdiri tegak. Ia tidak sedang sekadar membaca naskah pelantikan. Ia sedang merombak "mesin" birokrasinya agar tidak batuk-batuk lagi.
Ini bukan soal siapa duduk di mana. Ini soal siapa bisa lari seberapa kencang.
Bupati yang akrab disapa AST itu sadar betul: masyarakat tidak butuh pejabat yang pintar bersolek di balik meja. Rakyat butuh pelayanan yang sat-set. Maka, pelantikan Pejabat Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama hingga pengawas kali ini terasa punya bobot yang beda. Lebih berat.
"Penempatan pejabat harus mampu mendorong percepatan kinerja," tegas Bupati AST dengan nada bicara yang mantap. "Setiap aparatur dituntut menghadirkan inovasi."
Gaya bicaranya lugas. Khas orang yang ingin cepat melihat hasil.
Di sampingnya, Wakil Bupati Andi Rita Mariani Bhasaro dan Sekda Ardiansyah tampak menyimak dengan serius. Mereka tahu, tantangan pembangunan daerah saat ini tidak bisa lagi dihadapi dengan cara-cara lama yang loyo. Tantangannya dinamis. Kadang liar.
Menariknya, Bupati tidak ingin sumpah jabatan hanya jadi komitmen di atas kertas yang habis itu dilupakan. Baginya, integritas itu harga mati. Sumpah itu bukan formalitas belaka, melainkan janji moral kepada Tuhan dan warga Majene.
"Sinergi itu kunci," tambahnya lagi. Ia ingin antara OPD, camat, hingga lurah tidak ada lagi yang jalanya sendiri-sendiri. Harus kompak. Satu irama.
Hadirnya jajaran Forkopimda dan anggota DPRD di ruangan itu seolah memberi pesan kuat: ini adalah kerja kolektif. Semua mata kini tertuju pada nama-nama baru yang baru saja disumpah itu.
Mampukah mereka beradaptasi dengan cepat? Ataukah hanya akan menjadi pajangan di kantor yang baru?
Tentu, publik Majene tidak ingin menunggu lama. Pejabat yang baru dilantik harus segera berkemas, pindah ruangan, dan langsung kerja. Tidak ada waktu untuk sekadar syukuran berkepanjangan atau malah sibuk pesan papan bunga.
Roda pemerintahan sudah berputar. Mesin sudah dipanasi. Kini tinggal bagaimana para "sopir" baru ini menginjak pedal gas di lingkungan kerja masing-masing.
Harapannya cuma satu: Majene harus makin maju, bukan jalan ditempat. Kita lihat saja bagimana hasilnya di lapangan nanti.
Kisah Heroik Guru di Majene, Sisihkan Gaji Setiap Bulan Jadi Donatur Transportasi Murid
Artikel Terkait
Majene Incar Dana Pusat, Targetkan Kota Tua Jadi Destinasi Unggulan Sulbar Tahun 2026
Waspada Jastip Uang Baru! Polres Majene Ungkap Penipuan Bermodus Video Kiriman Palsu
Gaya Lobi Bupati Majene di Forum Sulbar, Amankan Anggaran Rakyat 2027
Kisah Heroik Guru di Majene, Sisihkan Gaji Setiap Bulan Jadi Donatur Transportasi Murid
KM Sabuk Nusantara 93 Angkut 308 Penumpang, Polres Majene Perketat Keamanan Pelabuhan