Handala membobol akun Telegram mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett dalam sebuah operasi yang mereka sebut Operasi Octopus. iPhone 13 milik Bennett diretas. Daftar kontak, foto, video, dan 1.900 percakapan bocor ke publik.
Tidak berhenti di sana. Handala juga mengeklaim meretas iPhone milik Tzachi Braverman, Kepala Staf Netanyahu. Komunikasi terenkripsi, catatan keuangan, hingga dugaan bukti korupsi dan skandal politik diklaim berhasil mereka raih.
Data dari 300 komputer perusahaan Israel Silicom dihapus. Setelah 96 jam, data itu diklaim belum bisa dipulihkan.
Mereka juga menyusup ke radar militer Israel dan mengeklaim menghancurkan sistem pertahanan udara Iron Dome. Target lainnya: Rada Electronics, perusahaan teknologi militer sekutu Israel.
Lima ratus ribu pesan teks disebar kepada warga pemukim Israel. Isinya: peringatan serangan akan segera datang.
Pada serangan terhadap Zerto, firma militer Israel, Handala mengklaim meretas 51 TB informasi sensitif.
Membobol Mossad dan Fasilitas Nuklir
Puncak klaim mereka yang paling dramatis: Mossad dan nuklir.
Handala mengungkap bahwa Mossad telah mentransfer dana ke jaringan mata-matanya di seluruh Asia Barat melalui protokol khusus dalam blockchain. Mereka mengeklaim berhasil membobol sistem Mossad dan membocorkan 8 terabyte informasi. Dokumen keuangan, kontrak, log transaksi, email, rekaman rapat, hingga rekaman panggilan.
Yang paling mencengangkan: serangan terhadap Pusat Penelitian Nuklir Soreq (NRC), fasilitas nuklir penting di wilayah Palestina. Mereka mengeklaim memperoleh email, peta infrastruktur, rincian personel, dan dokumen administrasi dari fasilitas itu.
Para ahli keamanan menyebut ini sebagai pelanggaran yang sangat berbahaya bagi kemampuan nuklir Israel. Implikasinya bagi rezim, kata mereka, bisa sangat serius.
Perang yang Tidak Akan Berhenti di Batas Negara
Konflik Iran dan Israel bukan lagi sekadar soal rudal dan drone.
Ia telah merembet ke tempat-tempat yang dulu terasa aman: server perusahaan medis di Amerika, akun pribadi pejabat tinggi, sistem pertahanan udara, bahkan fasilitas nuklir.
Handala ada di mana-mana. Diam-diam. Tidak terlihat.
Dan Stryker Corp, yang hari ini masih memulangkan karyawannya, adalah pengingat keras bahwa tidak ada perusahaan — di mana pun — yang benar-benar aman.
Handala sudah memilih targetnya berikutnya.
Artikel Terkait
Ditinggal Raksasa Teknologi, China Kehilangan Mahkota Manufaktur Smartphone ke India
Tak Perlu Kapsul Waktu, Cukup Google Maps untuk Melihat Kenangan Lama
Lulusan Terbaik China Ogah Kerja di Bank, Kini Serbu Pabrik Huawei dan BYD
Selat Hormuz Lumpuh, Pasokan Helium Macet: Industri Semikonduktor Asia Tercekik
Oppo Pecahkan Masalah Terbesar Ponsel Lipat, Layar Datar Tanpa Bekas Lipatan