Sulawesitoday - Di Parigi, aroma durian sudah menyengat sebelum musimnya benar-benar tiba. Tapi bukan bau itu yang membuat Faradiba Zaenong, Ketua Kadin Parimo, gusar.
Ia gerah oleh satu dokumen yang tak kunjung diteken—protokol ekspor durian ke China. Sebuah pintu yang sudah lama diketuk, tapi belum juga dibuka.
"Balai Karantina harusnya sudah paham, kita tidak sedang main teka-teki di sini. Ini soal kecepatan, soal momentum," kata Faradiba, Rabu (7/5). Nadanya tegas, hampir seperti nada seorang ibu yang muak melihat PR anaknya tidak selesai.
Durian Indonesia, faktanya, memang belum benar-benar hadir di China. Mereka transit dulu di Thailand. Di sanalah, buah kita dikemas ulang, diberi label asing, dan melenggang ke pasar Negeri Panda. Ironi kecil: petani kita kerja keras, yang dapat nama malah negara tetangga.
“Kalau begini terus, kita ini hanya jadi penyedia isi, bukan pemilik cerita,” ucap Faradiba. Satir yang tak perlu dijelaskan panjang lebar.
Ia menegaskan, semua dokumen dan standar yang diminta General Administration of Customs of China (GACC) sudah rampung. Bahkan beberapa Packing House (PH) di Parimo sudah dicek langsung. Tak ada alasan teknis yang tersisa. Hanya butuh tanda tangan.
Parimo sendiri bukan pemain baru. Ini salah satu wilayah dengan produksi durian terbesar di Sulawesi Tengah. PH-nya banyak, semangat petaninya tinggi. Yang kurang? Keputusan dari atas. “Kita sudah lari, tapi yang jaga garis finish malah belum datang,” katanya, setengah gumam.
Ia menyebut harga durian di China bisa dua kali lipat dari pasar lokal. Potensi itu bukan cuma angka di Excel, tapi harapan nyata buat petani. Anak-anak mereka bisa sekolah lebih tinggi, ladang bisa diperluas, hidup bisa lebih tenang. Kalau kran ekspor ini dibuka.
Faradiba tak lupa menyentil Kementan dan Bappanas. Edukasi soal standar kebun harus digencarkan. Penetapan kualitas ekspor jangan hanya jadi dokumen di rak.
Baca Juga: Petani Teriak, Tambang Terus Jalan: KADIN Parigi Moutong Desak Polisi Hentikan Emas Ilegal
"Ekspor itu bukan kerja satu-dua instansi. Ini orkestrasi. Tapi jangan sampai kita malah sibuk menyetem biola, panggungnya sudah sepi,” sindirnya.
Ia menutup dengan ucapan terima kasih kepada para petani, PH, Pemda, dan lembaga pusat yang telah bergerak. Tapi, katanya, jangan berhenti di tengah jalan. “Kalau kita mau menang, jangan biarkan gol bunuh diri dari birokrasi sendiri.”
Artikel Terkait
Prof. Zudan: Ruang Selebar‑lebarnya bagi ASN untuk Cantumkan Gelar di Data Kepegawaian
Suap, Pemerasan, Gratifikasi: KPK Bongkar Modus Korupsi ASN
Banggai Siapkan Gedung KI, Kemenkum Sulteng Gandeng Brida Dorong Inovasi Desa Sejak Dini
Kalapas Parigi Berganti, Sekda Zulfinasran: Sinergi Humanis Jadi Kunci Pembinaan
Petani Teriak, Tambang Terus Jalan: KADIN Parigi Moutong Desak Polisi Hentikan Emas Ilegal