Sulawesitoday - Duka menyelimuti TNI Angkatan Udara. Sebuah kabar pilu datang dari Ciampea, Bogor, Minggu pagi. Marsma TNI Fajar "Red Wolf" Adriyanto gugur dalam kecelakaan pesawat latih sipil. Ia mengalami kecelakaan saat menerbangkan pesawat Microlight Fixedwing Quicksilver GT500 milik Federasi Aero Sport Indonesia (FASI). Insiden itu terjadi di kawasan pemakaman umum, TPU Astana, di Ciampea. Purnawirawan berpangkat marsekal pertama itu tak tertolong.
Ia dinyatakan meninggal dunia saat tiba di Rumah Sakit Angkatan Udara dr. M. Hassan Toto. Penyelidikan atas tragedi ini kini bak benang kusut. Tim investigasi gabungan dari TNI AU dan FASI telah diterjunkan ke lokasi. Mereka mencoba mengurai penyebab jatuhnya pesawat.
Cerita kelam itu bermula pukul 09.08 WIB. Pesawat berjenis Microlight Fixedwing Quicksilver GT500, dengan registrasi PK-S126, lepas landas dari Lanud Atang Sendjaja. Marsma Fajar membawa pesawat itu. Di sampingnya duduk kopilot bernama Roni Ahmad. Mereka berdua dalam misi latihan profisiensi. Penerbangan olahraga dirgantara, sebuah hobi yang menjadi dedikasi terakhirnya.
Tiba-tiba, kontak hilang. Tepatnya pada pukul 09.19 WIB. Hanya berselang sebelas menit sejak pesawat membumbung tinggi. Pesawat itu ditemukan jatuh. Lokasinya tak jauh dari pemakaman warga. Sebuah tragedi yang meninggalkan tanya besar.
Kondisi korban pasca-kecelakaan amat memprihatinkan. Marsma Fajar segera dilarikan ke rumah sakit. Namun, nyawa tak tertolong. Sementara itu, Roni Ahmad masih berjuang. Ia menjalani perawatan intensif. Kopilot itu menderita luka berat.
Kadispenau, Marsma TNI I Nyoman Suadnyana, menyampaikan duka cita. "TNI Angkatan Udara berduka atas insiden kecelakaan pesawat latih sipil Microlight Fixedwing Quicksilver GT500 dengan register PK-S126 milik FASI, yang menewaskan Marsma TNI Fajar Adriyanto,” kata Nyoman.
Ini adalah pukulan berat. Ia menambahkan, pesawat yang digunakan sebetulnya dalam kondisi baik. Kondisi laik terbang itu amat dipastikan sebelum keberangkatan.
Fajar "Red Wolf" Adriyanto adalah sosok penting. Dedikasinya pada dunia kedirgantaraan tak diragukan. Kematianya bagai pil pahit yang harus ditelan. Duka itu menyisakan luka mendalam. Khususnya bagi keluarga besar TNI AU.
Pesawat Quicksilver GT500 sendiri merupakan pesawat ringan buatan Amerika. Ia bersayap tinggi. Memiliki dua kursi. Umumnya dipakai untuk rekreasi dan pelatihan. Kini, mesin ganda itu terdiam, menjadi saksi bisu sebuah misteri.
Artikel Terkait
Tumpang Tindih Kawasan WPR dan Lahan Pertanian Abadi di Parimo, Dilema Legalitas Tambang Rakyat
Benang Kusut Tambang Parimo, Dishut Sulteng Ingatkan Ancaman Vonis Hukum dan Bencana Ekologis
Awan Abu Setinggi 18 Ribu Meter Bak Teror, Status Awas Lewotobi Laki-laki Masih Tinggi
Bakamla Hentikan Penyelundupan, Nakhoda Kapal Akui Tiga Kali Kirim Bawang Ilegal
Cerita Sukses di Bumi Khatulistiwa , Presiden Beri Apresiasi - Karhutla Terkendali dengan Strategi Jitu