Mekanisme ini sebenarnya lazim di berbagai komunitas. Golf charity bukan fenomena baru. Bahkan di negara-negara maju, model ini populer. Efektif mengumpulkan kontribusi dari kalangan mampu. Sambil berolahraga, mereka berkontribusi untuk sesama.
Bencana Sumatera: Luka yang Belum Kering
Konteks bencana tak boleh dilupakan. Banjir bandang dan longsor menerjang Sumatera. Akhir November 2025 menjadi catatan kelam. Ratusan korban jiwa berjatuhan. Ribuan warga kehilangan tempat tinggal. Infrastruktur hancur. Trauma mendalam menyisakan bekas.
Respons kemanusiaan mengalir dari berbagai pihak. Pemerintah mengirim bantuan logistik. Relawan berdatangan ke lokasi bencana. Donasi publik terus digalang. Setiap kontribusi berarti bagi korban. Termasuk inisiatif dari komunitas alumni IPB.
Beasiswa untuk anak-anak korban menjadi fokus. Pendidikan tak boleh terhenti gara-gara bencana. Anak-anak kehilangan orang tua. Rumah hancur. Biaya sekolah menguap. Namun, masa depan mereka tetap harus diselamatkan. Itulah yang coba diwujudkan melalui charity golf.
Baca Juga: Ancaman Meluas ke Pejabat Tinggi, Kejagung Siap Usut Pimpinan dalam Kasus Pemerasan Jaksa Rp914 Juta
Artikel Terkait
Susi Pudjiastuti Sindir Gibran soal Starlink: Harusnya Dibawa, Bukan Sekadar Janji
Rekor KPK Gelar Hattrick OTT Sehari di Tiga Wilayah, Sasar Penegak Hukum Hingga Swasta
Dua Telur untuk 23 Jiwa, Kisah Miris Warga Aceh Tamiang Bertahan Hidup Saat Terisolir Banjir
Viral Curhat Dua Bocah Pengungsi Banjir Aceh Tamiang: Pengin Makan Rendang dan Bakso
Ancaman Meluas ke Pejabat Tinggi, Kejagung Siap Usut Pimpinan dalam Kasus Pemerasan Jaksa Rp914 Juta