Sulawesitoday - Suara Ismail Jalil bergetar. Bupati Aceh Utara itu menahan emosi. Di hadapan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, ia melontarkan keluhan yang menohok. Presiden Prabowo Subianto berkali-kali meninjau lokasi banjir bandang Sumatera. Tapi Aceh Utara? Tak sekalipun dikunjungi.
"Pak Presiden selalu ke Tamiang. Ke Takengon juga. Bahkan sempat hadir di Pidie Jaya," ujar Ismail dalam rapat koordinasi satgas pemulihan pascabencana, Selasa (30/12/2025). Nadanya penuh tanya. "Tapi Aceh Utara kayaknya kemana? Apa Bapak Presiden nggak tahu kalau kami juga kena banjir?"
Pertanyaan itu bukan sekadar retorika. Di baliknya, ada kekecewaan mendalam seorang kepala daerah yang merasa wilayahnya terlupakan. Padahal, kerusakan yang menimpa Aceh Utara tak kalah dahsyat dibanding daerah lain. Bahkan, menurut Ismail, lebih parah dari Tsunami 2004 silam.
Kenapa Aceh Utara Merasa Terabaikan?
Ismail punya dugaan kuat. Aceh Utara tidak viral. Internet mati total. Listrik padam berhari-hari. Akibatnya, tidak ada video dramatis tersebar di media sosial. Tidak ada foto-foto mencekam yang bikin netizen heboh.
"Pusat kayaknya tutup mata," katanya tegas. "Karena kami tidak ada sinyal HP dan mati lampu, maka tidak viral. Mungkin itu alasannya kenapa tidak ada yang datang."
Logika yang menyayat hati. Di era digital ini, bencana yang tak terekam kamera seakan tak pernah terjadi. Padahal, mayoritas kecamatan di Aceh Utara porak-poranda. Rumah hanyut. Masjid tersapu arus. Manusia terapung-apung di atap rumah, menunggu pertolongan yang entah kapan datang.
Ismail bahkan sempat menangis. Ia memohon bantuan helikopter untuk menyalurkan logistik ke warganya yang terisolir. "Kami cuma bisa melihat. Rumah hanyut, sarana ibadah hanyut, manusianya juga hanyut dibawa arus," ucapnya dengan suara parau. "Kami hanya bisa melihat mereka di atap-atap."
Tangisan seorang bupati bukan pertunjukkan. Itu jeritan hati yang mewakili ribuan warganya. Mereka butuh bantuan sekarang. Bukan janji. Bukan retorika politik. Tapi aksi nyata.
Seberapa Parah Dampak Banjir di Aceh Utara?
Data dari Kementerian Dalam Negeri mengonfirmasi kekhawatiran Ismail. Menteri Tito Karnavian mengungkapkan fakta mencengangkan dalam konferensi pers di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (29/12/2025).
Sebanyak 22 desa di Sumatera hilang total. Tersapu banjir tanpa bekas. Dari jumlah itu, 13 desa berada di Provinsi Aceh. Delapan desa di Sumatera Utara. Satu desa di Sumatera Barat.
"Data kami menunjukkan ada desa yang hilang totalnya 22," ungkap Tito. "Di Aceh ada 13 yang hilang tersapu. Sumatera Utara 8. Sumatera Barat 1."
Tapi angka yang lebih mencekam adalah jumlah kantor desa rusak. Sebanyak 1.580 kantor desa tidak bisa beroperasi. Pemerintahan lumpuh. Administrasi mandeg. Dan dari jumlah itu, 1.455 berada di Aceh.
Artikel Terkait
Buranga, Ketika Alat Berat Lebih Berkuasa daripada Hukum
Tragedi Panti Werdha Damai Manado, 16 Lansia Tewas Terbakar di Gang Sempit, Evakuasi Terhambat Lokasi Berbahaya
Sayap Bangkai Pesawat Melayang 100 Meter, Timpa Rumah Warga Akibat Puting Beliung di Bogor
Kelalaian Fatal: ABK Tertidur Pulas, Kapal Wisata Dewi Anjani Karam di Dermaga Pink Labuan Bajo
Tragedi Sabtu Sore: Bocah Kembar Tewas Tenggelam di Kolam Renang Citraland Medan