Sulawesitoday - Makanan itu bukan sekadar mengisi perut.
Bagi anak-anak usia sekolah, makanan adalah bahan bakar otak. Penentu konsentrasi. Fondasi tumbuh kembang. Salah kelola, yang rugi bukan hanya satu generasi.
Itulah yang tampaknya betul-betul dipahami oleh SPPG Tammerodo.
Kepala SPPG Tammerodo, Ardi, tidak main-main soal ini. Ia memastikan setiap makanan yang disalurkan kepada para siswa dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) benar-benar layak dikonsumsi — bukan sekadar bisa dimakan, tapi bermutu.
"Makanannya bermutu dan layak untuk siswa," tegasnya saat memberikan keterangan resmi kepada awak media, Sabtu 14 Maret 2026.
Kalimat singkat. Tapi berat.
Di balik pernyataan itu ada rangkaian prosedur panjang yang tidak kelihatan dari luar. Ada proses pemilihan bahan baku segar. Ada standar kebersihan dan higienitas yang dijaga ketat di setiap tahap pengolahan. Ada jadwal pengemasan dan distribusi yang terencana — agar makanan tidak sekadar sampai, tapi sampai dalam kondisi baik.
Ardi membuka ceritanya lebih jauh.
"Seluruh proses sudah mengikuti standar keamanan pangan. Kami sangat memperhatikan kualitas bahan makanan, cara pengolahan, hingga waktu distribusi agar tetap aman dikonsumsi oleh anak-anak," jelasnya.
Tidak ada yang kebetulan di sini. Semuanya disengaja.
Program MBG — yang merupakan salah satu program unggulan pemerintah — dirancang untuk menjawab satu persoalan nyata: masih banyak anak usia sekolah yang belum mendapatkan asupan gizi yang cukup. Melalui program ini, pemerintah menargetkan perbaikan nutrisi yang berdampak langsung pada pertumbuhan, kesehatan, dan kemampuan belajar para siswa.
Di wilayah Kecamatan Tammerodo Sendana, SPPG menjadi ujung tombak pelaksanaan itu. Sekolah-sekolah penerima manfaat mengandalkan konsistensi lembaga ini.
Dan konsistensi itu dijaga dengan evaluasi.
SPPG Tammerodo tidak berhenti pada distribusi. Pengawasan dilakukan secara berkala. Evaluasi berjalan rutin. Bukan untuk formalitas laporan — tapi untuk memastikan program ini benar-benar memberikan manfaat maksimal bagi yang paling membutuhkan.
Artikel Terkait
Air Mata Guru Honorer, Ketika Gaji Rp400 Ribu Kalah dari Sopir Program MBG
Menu MBG Berulat di SDN 4 Majene: Siswa Trauma, Orang Tua Desak Evaluasi SPPG
Kronologi Sopir MBG di Kebumen Tabrak Gerbang Sekolah hingga Diikat Warga karena Brutal
Siswa Sulteng Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai, Guru: Kami Lebih Butuh Jembatan dari MBG
Heboh Roti MBG Berbelatung di Jepara, Orang Tua Siswa PAUD Panik: Mana Pengawasannya?