Sulawesitoday - Lingkungan Pabesoang belum sepenuhnya terjaga ketika rombongan dari Dinas Sosial Majene tiba. Bukan rombongan besar. Tapi cukup untuk membuat seorang warga yang biasa diabaikan merasa diingat.
Kepala Dinas Sosial Majene, Najibah B. Fattah, turun sendiri. Bukan sekadar mengutus staf. Ia memimpin langsung kegiatan penyaluran bantuan bagi warga rentan di Kelurahan Rangas, Kecamatan Banggae, Rabu (18/03/2026).
Targetnya spesifik: lansia dan anak penyandang disabilitas. Dua kelompok yang paling sering luput dari daftar penerima bantuan reguler. Yang paling jarang bersuara. Yang paling tak mungkin datang sendiri ke kantor untuk mengurus berkas.
Maka Dinas Sosial yang mendatangi mereka.
Metodenya disebut jemput bola. Sederhana tapi bermakna. Tidak menunggu laporan. Tidak menunggu keluhan. Langsung ke pintu rumah penerima. Langsung ke tangan yang membutuhkan.
Yang diserahkan bukan benda mewah. Kasur layak pakai — supaya tidur malam tidak lagi di atas tikar yang tipis. Sabun. Sampo. Handuk. Kebutuhan yang bagi sebagian orang terasa sepele, tapi bagi sebagian yang lain adalah kemewahan yang tak selalu terbeli.
Suasananya sederhana. Hangat. Ada yang meneteskan air mata. Ada yang hanya bisa mengangguk berulang-ulang, tak menemukan kata.
Najibah tidak banyak berpidato. Ia cukup menjelaskan tujuan kedatangannya.
"Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan bahwa masyarakat yang memiliki keterbatasan tetap mendapatkan perhatian dan merasakan kehadiran pemerintah secara nyata," ujarnya.
Kalimat itu terdengar seperti janji. Tapi yang membuat berbeda: janji itu diucapkan bukan dari podium, melainkan dari depan pintu rumah seseorang yang selama ini menunggu.
Ramadhan memang kerap menjadi momentum. Tapi yang dilakukan Dinas Sosial Majene hari itu bukan sekadar aksi seremonial sekali setahun. Ini bagian dari pola kerja yang ingin dibangun: pelayanan yang menjangkau, bukan menunggu dijangkau.
Pabesoang bukan nama yang sering muncul di berita. Tapi Rabu itu, setidaknya untuk beberapa jam, negara hadir di sana — dalam bentuk kasur, sabun, dan seorang kepala dinas yang mau repot.
Logika Pelayanan Bupati Majene, Rakyat Kecil Tak Boleh Lagi Merasa Dianaktirikan
Artikel Terkait
Hapus Sekat di Kominfo, Bupati AST Minta Wartawan Majene Tidak Dibeda-bedakan
Gerakan Takjil SD 6 Majene, Bukan Sekadar Manis Tapi Soal Empati Siswa
Pelayanan Adminduk Majene Kembali Pulih Usai Sempat Disorot Mahasiswa Unsulbar
Logika Pelayanan Bupati Majene, Rakyat Kecil Tak Boleh Lagi Merasa Dianaktirikan
Bendi Wisata Majene, Warisan Mandar Jadi Daya Tarik Wisata Budaya Baru