Sulawesitoday - Libur Lebaran sudah usai. Gema takbir berganti suara mesin ketik dan deru kendaraan dinas. Hari pertama berkantor di Kabupaten Parigi Moutong langsung dipanaskan dengan arahan tajam.
Rabu pagi, 25 Maret 2026, halaman Kantor Bupati menjadi saksi. Wakil Bupati Abdul Sahid berdiri di depan barisan. Pesannya lugas: jangan ada debu di meja, jangan ada hambatan di pelayanan.
Urusan kebersihan ternyata bukan perkara sepele. Ini instruksi pusat yang harus mendarat mulus di daerah. Budaya disiplin dimulai dari sapu dan kemoceng. Sebelum jemari menyentuh papan tik, lingkungan harus kinclong dulu.
"Setiap OPD diminta meluangkan waktu setidaknya 30 menit untuk bersih-bersih lingkungan kerja. Setelah itu, baru mulai tugas seperti biasa," begitu perintah yang keluar di tengah apel pagi.
Para Aparatur Sipil Negara (ASN) tidak bisa lagi sekadar datang, duduk, lalu diam. Ada mata yang mengawasi. Abdul Sahid tidak hanya bicara di balik meja. Ada rencana "gerilya" birokrasi yang sudah disiapkan.
Kabarnya, pemimpin apel pagi di setiap dinas akan berganti-ganti. Sang Wakil Bupati akan hadir secara mendadak. Tanpa pengumuman. Tanpa karpet merah. Semua harus siap setiap saat.
"Akan ada kontrol langsung ke setiap OPD. Tidak ditentukan mana yang duluan, supaya semua selalu siap dan disiplin," ungkapnya di hadapan peserta apel.
Namun, urusan kantor bukan hanya soal kebersihan gedung. Yang lebih krusial adalah kebersihan hati dalam melayani. Terutama urusan perut birokrasi: administrasi kependudukan.
Keluhan masyarakat soal sulitnya mengurus KTP sering terdengar. Kali ini, instruksinya tanpa kompromi. Tidak boleh ada prosedur yang berbelit-belit. Jika syarat lengkap, proses harus jalan. Tidak perlu ada urusan tambahan yang bikin pening kepala warga.
"Layani masyarakat dengan baik, jangan mempersulit. Terutama KTP, jangan banyak embel-embel. Kalau sudah sesuai prosedur, langsung proses," tegasnya lagi.
Integritas dan pengabdian menjadi kata kunci penutup. Apel pagi itu bukan sekadar seremoni pasca-Idulfitri. Itu adalah lonceng pengingat bahwa pelayan publik harus kembali ke khitahnya: melayani, bukan dilayani.
Soal Tameme hingga Durian Ekspor, Eks Panja DPRD Parigi Moutong Angkat Bicara
Artikel Terkait
Geger Durian Parigi Moutong, Saat Panja DPRD Bongkar "Remang-Remang" Ekspor
Gaya Legislator Hi Wardi, Sulap Malam Ramadan Parigi Jadi Arena Lari Sicepat Petir
Soal Tameme hingga Durian Ekspor, Eks Panja DPRD Parigi Moutong Angkat Bicara
Khatib Salat Id 1447 H Muhammadiyah Parigi Ingatkan Bahaya Sombong
Gema Takbir di Parigi Moutong, Pesan Kedekatan Satu Jengkal dengan Rasulullah