Sulawesitoday - DI suatu tempat di muka bumi ini, hilal telah terlihat. Hisab pun membenarkan. Maka ditetapkanlah: Jumat 20 Maret 2026 sebagai Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Lebaran resmi tiba untuk warga Muhammadiyah di Parigi Moutong.
Ratusan jamaah memadati lapangan salat Id. Suasana khidmat. Takbir masih bergema pelan di langit Parigi ketika khatib naik mimbar. Bukan untuk mengucapkan selamat. Tapi untuk menagih sesuatu yang lebih dalam: perubahan.
"Mari kita merenung," kata khatib dengan nada tenang namun menghujam. "Apakah Ramadan sudah mengubah kita? Atau kita masih sama saja seperti sebelumnya?"
Pertanyaan itu bukan retorika biasa. Khatib membangun argumennya perlahan, seperti orang yang menyusun bata satu per satu. Ramadan, katanya, dirancang Allah untuk meruntuhkan satu penyakit paling berbahaya dalam diri manusia: kesombongan.
Ada yang sombong karena harta. Merasa paling kaya. Padahal di dalam kekayaan itu ada hak orang lain yang belum ditunaikan — zakat, infak, sedekah. Khatib mengingatkan: tiga amal itulah yang bisa membuang sifat sombong karena harta. Bukan tabungan. Bukan investasi. Tapi keikhlasan memberi.
Ada pula yang sombong karena jabatan. Lupa bahwa Allah bisa mencabut jabatan itu kapan saja. Tanpa pemberitahuan. Tanpa pesangon. Ada yang sombong karena ilmu — padahal ilmu yang diberikan Allah kepada manusia hanyalah setitik dari samudera yang tak bertepi. Ada yang sombong karena wajah tampan atau kecantikan yang dimiliki. Ada pula yang sombong karena sehat — merasa tubuhnya kuat, makan apa saja tanpa peduli batas.
Dari sebuah hadis, khatib mengingatkan ancaman yang keras: tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya masih tersimpan sifat sombong — walau sebesar biji sawi sekalipun. Sombong itu, tegasnya, hanya milik Allah. Bukan manusia.
Khatib lalu mengisahkan Imam Abu Hanifah, ulama besar yang pernah dinasihati seorang anak kecil. Pesannya sederhana tapi menusuk: jangan sombong, nanti terpeleset. Bukan sekadar terpeleset di jalanan berlumpur. Tapi terpeleset dari jalan menuju Allah.
Dari sini terjawab sebuah pertanyaan lama: mengapa manusia bisa malas beribadah? Jawabannya bukan karena sibuk. Bukan karena lelah. Tapi karena ada sombong yang bersarang di hati — sifat menolak kebenaran yang paling dibenci Allah.
Lalu bagaimana cara mengangkat penyakit sombong itu? Khatib menyebut tiga jalan. Pertama, perbaiki hubungan dengan Allah melalui salat lima waktu — karena amalan pertama yang akan dihisab di akhirat adalah salat, sebelum jasad ini disalatkan orang lain. Kedua, bangun konektivitas dengan Allah melalui membaca Al-Qur'an. Ketiga, bangun konektivitas dengan sesama manusia — saling berbagi, saling peduli, tidak menganggap enteng orang lain.
Tidak ada jaminan akan bertemu Ramadan berikutnya. Itu yang khatib tegaskan di penghujung ceramah. Maka semua amal yang tumbuh selama Ramadan — salat malam, sedekah, tilawah, sabar — harus dibawa terus. Jangan ditinggal begitu ketupat habis dimakan.
"Bumikan spirit amaliyah Ramadan pasca Ramadan," seru khatib. "Dan mari kita saling memaafkan."
Gemuruh takbir kembali terdengar. Jamaah berpelukan. Di antara mereka, mungkin ada yang benar-benar berubah setelah sebulan penuh berpuasa. Mungkin ada yang belum. Tapi setidaknya, hari ini, pertanyaan itu sudah diajukan dengan lantang di bawah langit Parigi Moutong.
Lebaran Sehat ala Puskesmas Banggae 1 Majene, Puasa Bukan untuk Disia-siakan
Artikel Terkait
2 Cara Ampuh Dual Akun di Xiaomi, Fitur Bawaan hingga Aplikasi Pihak Ketiga
Tanggul Sungai Jebol, 9 Dusun di Moutong Terjang Banjir - Warga Swadaya Kerahkan Alat Berat
Cara Menyalakan Bluetooth di Mode Pesawat dengan Aman dan Mudah
Sat Binmas Polres Majene Turun ke Bengkel, Minta Stop Pasang Knalpot Brong
Lebaran Sehat ala Puskesmas Banggae 1 Majene, Puasa Bukan untuk Disia-siakan