Sulawesitoday - Ketahanan pangan itu bukan sekadar angka di atas meja rapat. Bukan juga deretan grafik yang dipresentasikan di gedung-gedung tinggi. Ketahanan pangan adalah tanah yang basah, peluh petani, dan tanaman yang tumbuh subur di pelosok desa.
Rabu kemarin, 25 Maret 2026, pemandangan itu terlihat nyata di Lingkungan Copala, Kelurahan Banggae, Kecamatan Banggae. Ada sosok berseragam cokelat di sana. Bukan sedang melakukan razia kendaraan, melainkan sedang asyik memantau hamparan jagung dan singkong.
Dia adalah Brigpol Aco Muhammad Nur Alim. Jabatan resminya mentereng: Bhabinkamtibmas Polsek Banggae. Namun, di tengah kebun itu, gelarnya seolah melebur dengan napas para petani.
Jagung dan ubi kayu memang menjadi andalan di sana. Dua komoditas ini bukan main-main pengaruhnya. Kalau urusan perut aman, ekonomi warga pun ikut terangkat. Itulah kunci utama mengapa kepolisian kini ikut "turun tangan" ke tanah.
Di sela-sela pemantauan, dialog mengalir begitu saja. Tanpa sekat. Tanpa protokoler yang kaku. Para petani tumpah ruah bercerita. Ada soal cuaca yang tak menentu. Ada keluhan klasik tentang sulitnya mendapatkan pupuk. Hingga urusan hilirisasi hasil panen yang kadang mencekik leher.
"Kehadiran kami di lapangan memang bertujuan untuk memberikan motivasi agar pemanfaatan lahan bisa lebih optimal," ujar Brigpol Aco saat berbincang dengan warga.
Logikanya sederhana. Semua orang sepakat bahwa kesejahteraan adalah akar dari keamanan. Jika perut kenyang dan ekonomi lancar, potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) dengan sendirinya akan melandai. Orang yang sibuk mengurus panen jarang punya waktu untuk berbuat kriminal.
Maka, apa yang dilakukan Polres Majene melalui Bhabinkamtibmas ini adalah langkah preventif yang cerdas. Menjaga keamanan tidak harus selalu dengan borgol atau senjata. Terkadang, cukup dengan mendengarkan keluh kesah petani di bawah pohon rindang.
Hubungan kepolisian dan masyarakat pun menjadi semakin erat. Tidak ada lagi jarak. Semua orang merasa memiliki tanggung jawab yang sama: menjaga dapur tetap ngebul dan lingkungan tetap kondusif.
Nasib Peternak di Rangas Majene, Terganjal Tembok Administrasi dan Syarat Kelompok Ternak
Artikel Terkait
Pelajaran Mahal dari Batujajar, Konten Joget yang Berujung Penutupan Dapur Gizi
Gerak Cepat Posko THR Kemnaker: Seribuan Aduan Diproses, 173 Kasus Berhasil Diselesaikan
Heboh Tabel Gizi MBG Ramadan: Benarkah Satu Butir Dimsum Mengandung 28 Gram Protein?
Resmi Hadir! Galaxy A37 dan A57 5G Tawarkan Update Android 6 Tahun dan Teknologi AI
Nasib Peternak di Rangas Majene, Terganjal Tembok Administrasi dan Syarat Kelompok Ternak