Sulawesitoday - Nasib malang menimpa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pangauban, Batujajar. Baru saja hendak tancap gas usai libur Lebaran, operasionalnya justru harus tiarap. Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas: menghentikan sementara aktivitas di sana.
Pemicunya sederhana, tapi fatal di era digital: sebuah video joget.
Mitranya, Hendrik Irawan, mendadak viral. Bukan karena prestasi gizi, melainkan karena aksinya berjoget di area sensitif. Netizen bergerak cepat. Komentar pedas menghujam. Hasilnya, BGN tidak mau ambil risiko. Operasional dihentikan.
Hendrik pun muncul kembali di media sosial. Kali ini bukan untuk berjoget, melainkan untuk menundukkan kepala. Permohonan maaf meluncur berkali-kali.
“Saya diberhentikan oleh Ibu Nanik selaku BGN, mungkin netizen sudah merasa puas,” akunya melalui akun Instagram pribadinya, Kamis (26/3).
Kesalahan itu memang sulit dibantah. Protokol kebersihan dan standar operasional prosedur (SOP) seolah terlupakan demi konten. Ada video yang menunjukkan aksi joget di ruang pemorsian tanpa alat pelindung diri (APD). Padahal, itu adalah jantung dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Banyak orang menyayangkan. Niat hati ingin eksis, yang didapat justru vonis.
“Emang sih, ini kesalahan karena tidak mematuhi protokol nge-dance di ruangan tempat saya yang tidak menyangka akan seviral ini,” tambah Hendrik.
Namun, dampak dari video singkat itu ternyata panjang. Bukan hanya soal reputasi pribadi, tapi soal periuk nasi orang banyak. Penghentian operasional ini membuat sekitar 150 relawan terancam tidak bekerja pada 31 Maret mendatang.
Padahal, semua orang tahu, pasca-Lebaran adalah masa sulit. Dompet mulai menipis. Harapan para relawan untuk kembali produktif kini harus tertahan di pintu dapur yang terkunci.
“Saya sangat prihatin bagaimana nasib relawan saya yang bener-bener sudah semangat, karena setelah Lebaran kan keuangan juga habis,” jelasnya dengan nada getir.
Padahal, persiapan sudah matang. Susu sudah dipesan. Menu sudah dirancang. Semua rencana itu kini kandas di tengah jalan. Padahal, selama ini diklaim tidak pernah ada keluhan mengenai kualitas makanan di SPPG Pangauban.
Dapur yang bagus ternyata tidak cukup jika tidak dibarengi dengan kedisiplinan sikap. Netizen telah menunjukkan kekuatannya.
Kualitas Menu MBG Disorot, Tantangan Dadan Hindayana Hadirkan Menu Mewah Harga Rakyat
Artikel Terkait
Siswa Sulteng Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai, Guru: Kami Lebih Butuh Jembatan dari MBG
Heboh Roti MBG Berbelatung di Jepara, Orang Tua Siswa PAUD Panik: Mana Pengawasannya?
Bukan Sekadar Kenyang, SPPG Tammerodo Jaga Mutu MBG untuk Siswa di Tammerodo Sendana
Sentil Pengelola MBG yang Joget di Atas Penderitaan Rakyat, Lita Gading: Mau Lapor Saya?
Kualitas Menu MBG Disorot, Tantangan Dadan Hindayana Hadirkan Menu Mewah Harga Rakyat