• Senin, 20 Juli 2026

Kualitas Menu MBG Disorot, Tantangan Dadan Hindayana Hadirkan Menu Mewah Harga Rakyat

.
Muhammad Aqil Azizi, Sulawesi Today
- Rabu, 25 Maret 2026 | 16:47 WIB
Kepala BGN tantang pengelola dapur hadirkan menu MBG kualitas bintang 5 seharga Rp10 ribu. Inovasi makanan segar dan tahan lama jadi kunci utama.
Kepala BGN tantang pengelola dapur hadirkan menu MBG kualitas bintang 5 seharga Rp10 ribu. Inovasi makanan segar dan tahan lama jadi kunci utama.

Sulawesitoday - Ini tantangan besar. Mungkin juga mustahil bagi sebagian orang. Bagaimana mungkin menyajikan menu kelas bintang lima, tapi modal bahan bakunya hanya Rp10.000?

Itulah "pekerjaan rumah" yang dilemparkan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana. Ia tidak sekadar meminta. Ia menantang.

Targetnya jelas: para pengelola dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh penjuru tanah air.

Antara Gengsi Bintang Lima dan Realitas Sepuluh Ribu

Publik di media sosial sedang riuh. Isunya sensitif: isi piring anak sekolah dan ibu menyusui. Ada keraguan yang menggantung di udara. Bisa tidak, program raksasa ini dipercaya sepenuhnya?

Apalagi, bayang-bayang kelam sempat muncul. Ada laporan menu kedaluwarsa. Ada bau tidak sedap dari dapur yang tidak standar.

Dadan tahu itu. Maka, ia memanggil para ahli gizi dan chef profesional. Ia ingin ada keajaiban kreativitas di atas wajan.

"Saya berharap suatu hari keluar inovasi-inovasi makanan dari ahli gizi dan chef-chef profesional," ujar Dadan dalam keterangan resminya, Rabu (25/3/2026).

Mimpinya tinggi. Kualitasnya harus kelas hotel mewah, namun label harganya tetap harga program rakyat. Inilah yang ia sebut sebagai "Khas MBG".

Ujian Ramadan: Segar tapi Awet

Tantangan ini kian nyata saat memasuki bulan Ramadan. Pola distribusi berubah. Waktu konsumsi bergeser. Di sinilah inovasi produk bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

Dapur-dapur SPPG dipaksa memutar otak. Bagaimana menciptakan makanan yang tetap segar saat disantap, namun memiliki daya tahan lebih lama agar tidak cepat basi.

"Kita membutuhkan makanan yang berkualitas tinggi, fresh, tapi tahan lama. Nah, ini tantangannya," tegas Dadan.

Logikanya sederhana tapi sulit eksekusinya. Jika makanan cepat rusak, kepercayaan masyarakat akan runtuh lebih cepat daripada proses memasaknya.

Halaman:

Editor: Muhammad Aqil Azizi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Artikel Terkait

Terkini