Semua harus duduk satu meja. Harus ada "kitab" baru:
Pedoman Bersama: Agar auditor tidak bingung.
Standar Biaya: Yang menghargai lisensi dan hak cipta.
Standar Output: Yang menilai kualitas, bukan cuma durasi.
Kalau tidak ada standar ini, selamanya pelaku kreatif akan was-was. Mau berkarya buat negara malah takut masuk penjara gara-gara selisih hitungan "harga fisik".
Masa Depan yang Kreatif
Indonesia ingin ekonomi kreatif jadi tulang punggung. Hebat. Tapi tulang punggung itu butuh saraf yang nyambung. Sarafnya adalah regulasi dan tata kelola yang paham karakter kerja kreatif.
Jangan sampai talenta-talenta hebat kita kapok bekerja sama dengan pemerintah atau desa. Gara-gara urusan administratif yang tidak nyambung dengan realitas lapangan.
ICCN sudah berjanji akan turun tangan. Melakukan advokasi. Menyusun solusi. Agar ke depan, pengadaan jasa kreatif itu adil dan akuntabel.
Kita tidak boleh berhenti di urusan fisik saja. Indonesia harus naik kelas. Dari sekadar tukang bangun, menjadi bangsa yang jago "membangun rasa".
Asal, ya itu tadi: jangan lagi menilai video pakai harga semen.
Hormuz Memanas, Indonesia hingga Filipina Berebut Pasokan Minyak Rusia
Artikel Terkait
Lebaran Ketupat Bantaya, Pesan Damai Bupati Erwin Burase dan Perang Lawan Narkoba
Bupati Majene Larut dalam Doa 40 Hari Ibunda Ketua Komisi II, Simbol Harmonisasi Daerah
Revolusi Pendingin Berkeley: Pakai Logika Es Puter, Ruangan Dingin Hanya dengan 1 Volt!
Apple Suntik Mati Mac Pro! Mengapa Workstation Ikonik Ini Akhirnya Harus Menyerah?
Bukan Sekadar Gaya, Kacamata Pintar Ray-Ban Kini Sasar Pengguna Lensa Resep dan Silinder