• Senin, 20 Juli 2026

Bupati Majene Larut dalam Doa 40 Hari Ibunda Ketua Komisi II, Simbol Harmonisasi Daerah

.
Muhammad Aqil Azizi, Sulawesi Today
- Minggu, 29 Maret 2026 | 12:20 WIB
Bupati Majene Andi Achmad Syukri kunjungi kediaman Napirman di Sendana. Momen doa 40 hari ibunda Ketua Komisi II DPRD yang pererat silaturahmi daerah.
Bupati Majene Andi Achmad Syukri kunjungi kediaman Napirman di Sendana. Momen doa 40 hari ibunda Ketua Komisi II DPRD yang pererat silaturahmi daerah.

Sulawesitoday - Dusun Bo’di di Desa Tallubanua Utara mendadak ramai. Hari itu, Minggu (29/03/2026), bukan sekadar urusan administrasi pemerintahan yang membawa langkah kaki orang nomor satu di Majene sampai ke Kecamatan Sendana. Ada magnet lain yang lebih kuat: rasa kemanusiaan.

Bupati Majene, Andi Achmad Syukri Tammalele, hadir di sana. Beliau datang tepat saat momentum 40 hari wafatnya ibunda Napirman, Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Majene.

Gaya komunikasinya cair. Tidak ada sekat protokoler yang kaku. Padahal, yang satu adalah pucuk pimpinan eksekutif, yang satu lagi tokoh penting di legislatif. Namun, di bawah tenda duka, posisi politik seolah luruh. Yang ada hanyalah dua sahabat yang saling menguatkan.

Suasana khidmat menyelimuti rumah duka. Suara tahlil, doa, dan zikir membubung. Keluarga, tokoh masyarakat, dan warga sekitar duduk bersila. Sama rendah.

Bagi Bupati, hadir di acara seperti ini adalah keharusan nurani. Bukan sekadar menggugurkan kewajiban undangan formal.

“Ini bukan sekadar kehadiran formal, tetapi bentuk kebersamaan dan kepedulian,” ujar Bupati Syukri di sela-sela acara. “Kita ingin terus menjaga silaturahmi serta saling menguatkan dalam setiap keadaan.”

Ucapan itu bukan sekadar basa-basi politik. Di Majene, menjaga hubungan harmonis antara "balai kota" dan "gedung dewan" memang krusial. Tapi, membangunnya dari meja makan atau karpet zikir jauh lebih efektif daripada sekadar rapat resmi di kantor.

Napirman sendiri tampak terharu. Beban duka ditinggal ibunda tentu berat. Namun, kehadiran pemimpin daerah di tengah keluarga besarnya menjadi penawar tersendiri. Dukungan moril itu mahal harganya.

“Kehadiran beliau menjadi penguat bagi kami,” ungkap Napirman dengan nada tulus. “Ini menunjukkan bahwa hubungan kekeluargaan di Majene masih sangat terjaga.”

Acara ditutup dengan doa bersama. Khusyuk. Semua berharap almarhumah mendapat tempat terbaik, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.

Lebih dari itu, sore itu di Bo’di, publik melihat sebuah teladan sederhana: bahwa politik boleh beda warna, tapi untuk urusan doa dan kemanusiaan, semua harus satu barisan.

Nasib Peternak di Rangas Majene, Terganjal Tembok Administrasi dan Syarat Kelompok Ternak

Editor: Muhammad Aqil Azizi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini