Sulawesitoday - Antrean Panjang dari Timur. Ini pemandangan yang menarik. Negara-negara Asia Tenggara yang selama ini cenderung diam, kini bergerak. Vietnam, Thailand, Filipina, Indonesia, Sri Lanka — semua sedang mengantri. Bukan antre sembako. Tapi antre minyak Rusia.
Mereka tidak bodoh. Ketika harga minyak melonjak hingga 5,7 persen dalam sehari dan jalur distribusi Timur Tengah kacau, logika pasar berbicara keras: pergi ke tempat yang masih bisa memasok. Dan Rusia, meski dibalut sanksi Barat, masih punya ladang-ladang minyak yang menyala.
Filipina adalah yang paling berani. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, Manila kembali membeli minyak dari Moskow. Bukan jumlah kecil — sekitar 1,5 juta barel jenis ESPO Blend, dikirim via kapal tanker langsung ke pelabuhan Limay, lokasi terminal kilang Bataan. Ini keputusan pragmatis. Tidak ada ideologi di sini. Ada hitung-hitungan dolar dan sen.
Thailand belum mengumumkan secara resmi, tapi Wakil Perdana Menteri Phiphat Ratchakitprakarn sudah bicara: pembicaraan sedang berlangsung. Di Sri Lanka, media lokal melaporkan hal serupa. Pulau itu sempat hampir kolaps secara ekonomi beberapa tahun lalu. Mereka tidak ingin mengulangi mimpi buruk itu hanya karena terlalu ideologis dalam memilih sumber energi.
Vietnam Bergerak Lebih Jauh
Vietnam tidak cukup hanya membeli. Perdana Menteri Pham Minh Chinh terbang ke Moskow pekan ini. Ia bertemu dengan perusahaan minyak dan gas Rusia, Zarubezhneft, dan meminta sesuatu yang lebih besar: investasi jangka panjang dan pasokan minyak mentah yang berkelanjutan.
Ini bukan sekadar transaksi. Ini adalah sinyal bahwa Hanoi sedang membangun ketergantungan energi baru — secara sadar, terukur, dan dengan mata terbuka.
Di era Perang Dingin, Vietnam pernah sangat dekat dengan Uni Soviet. Lalu dunia berubah. Kini geopolitik energi mendorong keduanya kembali saling menatap. Bukan karena ideologi. Tapi karena harga minyak.
Peskov Memberi Peringatan
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov tidak mencoba menyembunyikan kekhawatirannya. Ia berkata langsung kepada Reuters: permintaan sangat tinggi, terutama untuk tujuan-tujuan alternatif — maksudnya negara-negara yang selama ini tidak membeli minyak Rusia. Dan akibatnya, akan ada titik di mana Rusia sulit memenuhi permintaan tambahan itu.
Terlalu banyak peminat. Terlalu sedikit pasokan.
Ini paradoks yang menarik. Rusia selama ini dihantam sanksi Barat setelah invasi ke Ukraina. Tapi konflik di Timur Tengah justru mengangkat posisi tawarnya. Tiba-tiba Moskow menjadi sumber energi alternatif yang paling logis bagi banyak negara berkembang.
India dan China sudah lebih dulu. Sejak konflik Rusia-Ukraina dimulai, dua negara itu menyerap sekitar 80 persen total ekspor minyak Rusia. Turki juga masuk dalam kelompok pembeli besar. Dan kini Asia Tenggara ikut mengetuk pintu.
Kerentanan Rusia yang Sering Terlupakan
Tapi Rusia bukan tanpa masalah sendiri. Di balik lonjakan permintaan ini, ada ancaman serius yang tidak banyak diberitakan: drone Ukraina.
Serangan drone Ukraina terhadap infrastruktur minyak Rusia dilaporkan telah mengganggu hingga sekitar 40 persen kapasitas ekspor minyak negara itu. Kilang-kilang minyak yang terbakar, terminal yang rusak, dan jalur distribusi internal yang terganggu — semuanya menjadi rem bagi kemampuan Moskow memenuhi antrean panjang dari Asia.
Jadi ada dua tekanan sekaligus: permintaan yang melonjak dari luar, dan kapasitas yang terpangkas dari dalam. Di sinilah letak kerumitan situasi energi global saat ini — bukan sekadar soal harga, tapi soal apakah pasokan fisik itu benar-benar bisa sampai ke tangan pembeli.
Artikel Terkait
TikTok Setengah Patuh, Peta Jalan Baru Meutya Hafid Lindungi Anak di PP Tunas 2026
Pony AI Siap Kuasai Dunia, Dari Robotaxi di Dubai Hingga Titik Impas di Tiongkok
Ingin Rehat dari IG? Ini Cara Mudah Hapus Akun Instagram Sementara atau Selamanya
Pekerja Tewas di Karung, Anleg Safri Minta Gubernur Sulteng Tegas Sanksi PT Heng Jaya
Lampu Hijau Teheran, Kapal Tanker Pertamina Segera Bebas dari Selat Hormuz