• Selasa, 21 Juli 2026

Hormuz Memanas, Indonesia hingga Filipina Berebut Pasokan Minyak Rusia

.
Muhammad Aqil Azizi, Sulawesi Today
- Sabtu, 28 Maret 2026 | 15:55 WIB
Konflik AS-Israel-Iran memicu krisis energi global. Vietnam, Filipina, Thailand, Indonesia, dan Sri Lanka berebut minyak Rusia saat Selat Hormuz terganggu.
Konflik AS-Israel-Iran memicu krisis energi global. Vietnam, Filipina, Thailand, Indonesia, dan Sri Lanka berebut minyak Rusia saat Selat Hormuz terganggu.

Satu-satunya angin segar bagi Rusia adalah kebijakan AS. Washington memberikan pelonggaran sanksi sementara selama 30 hari untuk pembelian minyak Rusia melalui jalur laut. Ini membuka celah — meski kecil dan mungkin sementara — bagi transaksi yang sebelumnya berisiko secara hukum.

Indonesia di Mana?

Indonesia disebut dalam daftar. Tapi sejauh ini, belum ada pernyataan resmi dari Jakarta. Pertamina masih diam. Kementerian ESDM belum bersuara.

Padahal Indonesia adalah importir minyak. Defisit neraca migas kita nyata. Harga Pertamax bisa naik kapan saja kalau harga minyak dunia tak kunjung reda. Dan Selat Hormuz yang terganggu itu tidak hanya menyentuh pedagang di Wall Street — ia menyentuh kantong rakyat di Surabaya, Makassar, dan Medan.

Pertanyaannya: apakah Indonesia akan ikut mengantre secara terbuka, ataukah memilih jalur-jalur yang lebih sunyi?

Di dunia diplomatik, 'masih dalam pembicaraan' sering kali berarti 'sudah hampir sepakat'. Kita lihat saja.

Peta Energi yang Sedang Digambar Ulang

Apa yang kita saksikan hari ini bukan sekadar transaksi jual-beli minyak. Ini adalah proses penggambaran ulang peta energi global — sesuatu yang terjadi tidak setiap dekade, tapi mungkin setiap generasi.

Ketika jalur Timur Tengah tersendat dan sanksi Barat memaksa Rusia mencari pasar baru, dan ketika negara-negara Asia membutuhkan energi murah untuk menjaga pertumbuhan ekonomi mereka — maka pertemuan kepentingan ini hampir tak terhindarkan.

Yang menarik bukan hanya siapa yang membeli dari siapa. Yang menarik adalah: bagaimana peta ini akan memengaruhi posisi geopolitik Asia Tenggara dalam 10 tahun ke depan? Apakah ketergantungan energi pada Rusia akan membuat negara-negara ini lebih sulit bersikap kritis terhadap Moskow di forum-forum internasional?

Sejarah mengajarkan: energi tidak pernah hanya soal energi. Ia selalu soal kekuasaan.

Dan di Selat Hormuz yang sempit itu, kekuasaan sedang memainkan babak baru.

Lampu Hijau Teheran, Kapal Tanker Pertamina Segera Bebas dari Selat Hormuz

Halaman:

Editor: Muhammad Aqil Azizi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini