• Selasa, 21 Juli 2026

Viral Jemur Padi di Lampu Merah Maros, Antara Urusan Perut dan Bahaya di Jalan Raya

.
Dwi Rahayu Putri, Sulawesi Today
- Selasa, 14 April 2026 | 20:40 WIB
​Fenomena unik di Bypass Mamminasata Maros: petani jemur gabah di badan jalan. Viral di sosmed, picu debat panas antara kebutuhan hidup vs aturan jalan.
​Fenomena unik di Bypass Mamminasata Maros: petani jemur gabah di badan jalan. Viral di sosmed, picu debat panas antara kebutuhan hidup vs aturan jalan.

Sulawesitoday - Proyek Bypass Mamminasata itu gagah. Aspalnya hitam, mulus, dan lebar. Tapi bagi sebagian petani di Maros, aspal itu bukan sekadar lintasan mobil-mobil kencang. Ia adalah lantai jemur raksasa yang paling efektif. Paling panas. Dan, tentu saja, gratis.

Selasa kemarin, 14 April 2026, sebuah video pendek mendadak jadi buah bibir. Pengunggahnya akun @abdulgf.agc. Dia merekam pemandangan yang bikin dahi mengkerut sekaligus tersenyum kecut. Tepat di lampu merah, saat kendaraan harus berhenti mengikuti irama lampu, di situ pula gabah-gabah kuning terbentang rapi di atas terpal.

Hampir separuh badan jalan tertutup. "Fasilitas umum rasa halaman rumah sendiri," ujar si pengunggah dalam videonya. Dia geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak, di tengah deru mesin dan zebra cross yang formal, ada aroma gabah yang sedang dijemur.

Video itu ditonton lebih dari 100 ribu kali. Viral.

Netizen pun terbelah. Seperti biasa, kubu-kubuan muncul. Ada yang memaklumi dengan nada melankolis. "Maklumi saja, itu buat isi perut mereka. Kasihan," tulis salah satu komentar. Ada pula yang sinis, menyebut ini adalah bentuk pengambilalihan lahan yang dulu mungkin memang sawah mereka sebelum digilas beton.

Tapi, hukum jalan raya tidak mengenal sentimen. Aspal adalah fasilitas publik.

"Stop normalisasi hal salah," tulis akun @rav*******7. Logikanya sederhana: kepentingan umum harus di atas kepentingan pribadi. Menjemur gabah di jalan utama bukan cuma soal estetika, tapi soal nyawa. Licin. Bahaya.

Masalahnya, ini soal kultur. Bukan sekadar niat jahat. Petani-petani kita sudah terbiasa menjemur di mana saja ada panas. Dan aspal adalah konduktor panas yang jempolan. Gabah cepat kering, beras jadi pulen.

Mungkin benar kata seorang netizen: perlu pendekatan persuasif. Edukasi. Bukan sekadar denda atau hardikan. "Tidak semua pelanggaran muncul karena niat jahat, bisa jadi karena ketidak-tahuan," tulis @ahm******n.

Pemerintah daerah memang punya pekerjaan rumah besar. Membangun jalan itu mudah, uangnya ada. Tapi membangun kesadaran bahwa sawah sudah berubah jadi jalan raya, itu yang butuh waktu.

Jangan-jangan, bagi petani di sana, jalan bypass itu hanyalah halaman rumah yang kebetulan dilewati banyak orang asing. Syukurlah, sejauh ini belum ada laporan mobil yang slip gara-gara melindas gabah di traffict light itu.

Tapi sampai kapan? Apa harus menunggu ada yang terjungkal baru sosialisasi digalakkan? Entahlah. Yang jelas, di Mamminasata, modernitas dan tradisi sedang bertabrakan di atas satu bentangan terpal biru. Di bawah sorotan lampu merah yang diam.

Mafia Solar Banyuwangi Bobol MyPertamina Pakai 40 Barcode, Polisi Tangkap 7 Tersangka

Editor: Dwi Rahayu Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini