Sulawesitoday - Tanah Papua itu luar biasa suburnya. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Tapi, apa jadinya kalau yang tumbuh subur di tengah hutan Pegunungan Bintang justru sesuatu yang bikin otak oleng?
Sabtu lalu, suasana tenang di Kampung Ngutok dan Kampung Esipding mendadak pecah. Satgas Swasembada dari Yonif 751/VJS bersama aparat gabungan TNI-Polri tidak sedang mencari lokasi tanam padi atau jagung. Mereka merangsek masuk ke rimbunnya hutan Distrik Oksibil dan Serambakon karena satu aroma: ganja.
Hasilnya mencengangkan. Di sana, di balik rimbunnya pohon-pohon hutan, ditemukan 135 batang tanaman haram. Tinggi-tinggi. Ada yang sudah mencapai dua meter. Siap panen. Sepertinya sang pemilik sudah membayangkan keuntungan besar di depan mata.
Informasi ini tidak jatuh dari langit. Warga lokal rupanya sudah mulai gerah. Mereka lapor ke petugas soal aktifitas mencurigakan di kebun yang tersembunyi itu. "Anggota langsung bergerak cepat melakukan penyisiran setelah menerima laporan dari masyarakat," ungkap salah satu personel di lapangan.
Di lokasi pertama, ada 55 batang setinggi dada orang dewasa. Jalan lagi ke lokasi kedua, jumlahnya lebih banyak: 80 batang. Totalnya cukup untuk merusak mental banyak anak muda di sana. Tak hanya tanaman, seorang warga sipil yang diduga kuat sebagai pemilik 'apotek hidup' ilegal ini ikut diamankan.
Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf Wirya Arthadiguna, tak mau kompromi. Semua barang bukti dan si pemilik lahan langsung diserahkan ke Polres Pegunungan Bintang. Proses hukum harus jalan. Tidak ada tawar-menawar untuk urusan merusak generasi.
"Masyarakat kita himbau jangan sampai terlibat penanaman atau peredaran narkotika. Ini dampaknya buruk sekali buat masa depan," tegas Letkol Wirya.
TNI kelihatanya memang sedang serius. Operasi terpadu akan terus ditingkatkan. Bukan cuma soal menangkap, tapi memastikan rantai peredaran ini putus sampai ke akar-akarnya. Papua butuh ketahanan pangan, butuh swasembada yang menyehatkan, bukan swasembada yang memabukkan.
Tentu, ini bukan tugas mudah. Medan di Pegunungan Bintang itu beratnya minta ampun. Tapi kalau warga sudah berani melapor, itu tanda ada harapan besar. Bahwa kedamaian dan kesehatan di tanah Papua memang harus dijaga bersama-sama.
Jangan sampai tanah yang diberkati ini justru dinodai oleh tanaman yang mencelakai. Sayang benar. Sayang sekali.
Plot Twist Penculikan Bocah SMP di Bandung Barat, Pelaku Ternyata Remaja 15 Tahun!
Artikel Terkait
Hukum Jalanan di Rokan Hilir, Massa Segel Tempat Hiburan Saat Aparat Dianggap Tidur
Gebrakan Bupati AST di Ruang Pola, Pejabat Baru Majene Dilarang Loyo - Wajib Inovasi
Matolele Hingga Bolano Utara, Tak Ada Lagi Cerita Cari Sinyal ke Atas Bukit
Kakanwil Kemenkum Sulteng: Jadikan Hukum Adat Juru Damai Non-Litigasi di Sulawesi Tengah
Plot Twist Penculikan Bocah SMP di Bandung Barat, Pelaku Ternyata Remaja 15 Tahun!