Sulawesitoday - Tragedi ini menggambarkan kenyataan pahit yang dihadapi warga Desa Kopeang, Kecamatan Mamuju, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Pada Senin pagi, 30 Desember 2024, M. Nasir (60), seorang pria lanjut usia, harus ditandu sejauh 21 kilometer menuju puskesmas karena kondisi jalan desa yang rusak parah. Nasir menderita batuk parah yang disertai keluarnya darah. Sayangnya, ia meninggal dunia sebelum mencapai fasilitas medis.
“Dia batuk terus, keluar darah. Jadi keluarga memutuskan membawanya ke puskesmas pakai tandu,” ungkap Pardi, salah satu warga desa. Keputusan ini bukan tanpa alasan. Jalan menuju desa mereka berada di kawasan pegunungan dengan kondisi berbatu dan tanjakan curam. Mobil tidak bisa melintas hingga satu-satunya pilihan adalah menandu pasien secara manual.
Proses perjalanan itu tidak mudah. Nasir ditandu menggunakan sarung yang diikat pada dua bilah bambu. Warga bergantian membawa tandu, melewati medan berat di bawah terik matahari. Meski tandu dilengkapi payung untuk melindungi Nasir dari panas, usaha tersebut tetap tak mampu menyelamatkan nyawanya.
Ketika rombongan akhirnya tiba di jalan yang sudah dicor dan memungkinkan akses ambulans, Nasir telah dinyatakan meninggal dunia. Jenazahnya kemudian kembali ditandu ke desa dan tiba di rumah duka sekitar pukul 21.30 WITA.
Fenomena ini, seperti yang diungkapkan Pardi, bukanlah kali pertama terjadi. “Sudah sering warga sakit ditandu ke puskesmas karena jalan kami tidak bisa dilalui kendaraan,” ujarnya dengan nada penuh harap.
Baca Juga: Perang Melawan Narkoba, Polda Sulteng Amankan 64.383 Gram Sabu dan 811 Tersangka
Ia mengungkapkan bahwa fasilitas kesehatan seperti puskesmas pembantu (pustu) yang ada di desa hanya mampu menangani kasus ringan, sehingga pasien dengan kondisi serius harus dibawa ke puskesmas utama.
Pardi dan warga Desa Kopeang berharap pemerintah segera mengambil tindakan. Perbaikan akses jalan menjadi kebutuhan mendesak. Tanpa itu, warga akan terus menghadapi kesulitan serupa, bahkan mungkin kehilangan lebih banyak nyawa.
Kejadian ini juga direkam oleh warga, menunjukkan kondisi nyata yang mereka hadapi. Video tersebut memperlihatkan perjuangan mereka melewati jalan berbatu, membawa tandu dengan dedikasi dan rasa saling peduli yang tinggi. Namun, dedikasi tersebut tidak dapat menggantikan kebutuhan akan infrastruktur yang memadai.
Kisah ini mengingatkan kita betapa pentingnya aksesibilitas terhadap layanan kesehatan. Infrastruktur yang memadai tidak hanya memudahkan kehidupan sehari-hari, tetapi juga menjadi penyelamat nyawa. Pemerintah diharapkan dapat mendengar suara warga Desa Kopeang dan memberikan solusi yang nyata.
Ayo Gabung di Channel WhatsApp Sulawesitoday! Dapatkan update informasi dan berita terbaru di https://bit.ly/WAchanelSulawesitoday
Jangan Ketinggalan Berita Eksklusif Lainnya! Yuk, cek langsung di Google News Sulawesitoday.
Lihat postingan ini di Instagram
Artikel Terkait
Solidaritas TNI-Polri, 250 Pendonor Bantu Kesehatan di Momen Natal 2024
Oknum Polisi Terlibat Narkoba di Soppeng, Ini Fakta di Balik Penangkapan Briptu SW dan Rekannya
Polisi Banggai Selamatkan 243 Ribu Nyawa dari Bahaya Narkoba di Tahun 2024
Dramatis, Kapal Pesiar Ocean Pure Terbakar di Raja Ampat, Semua Penumpang Selamat
Perang Melawan Narkoba, Polda Sulteng Amankan 64.383 Gram Sabu dan 811 Tersangka