• Selasa, 21 Juli 2026

Tragis, Lansia Meninggal Saat Ditandu 21 Km Akibat Jalan Rusak di Mamuju

.
Nur Rafiqa, Sulawesi Today
- Rabu, 1 Januari 2025 | 09:22 WIB
Tragis, lansia di Mamuju meninggal saat ditandu sejauh 21 km akibat jalan rusak. Pemerintah diminta perbaiki infrastruktur.
Tragis, lansia di Mamuju meninggal saat ditandu sejauh 21 km akibat jalan rusak. Pemerintah diminta perbaiki infrastruktur.

Sulawesitoday - Tragedi ini menggambarkan kenyataan pahit yang dihadapi warga Desa Kopeang, Kecamatan Mamuju, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Pada Senin pagi, 30 Desember 2024, M. Nasir (60), seorang pria lanjut usia, harus ditandu sejauh 21 kilometer menuju puskesmas karena kondisi jalan desa yang rusak parah. Nasir menderita batuk parah yang disertai keluarnya darah. Sayangnya, ia meninggal dunia sebelum mencapai fasilitas medis.

“Dia batuk terus, keluar darah. Jadi keluarga memutuskan membawanya ke puskesmas pakai tandu,” ungkap Pardi, salah satu warga desa. Keputusan ini bukan tanpa alasan. Jalan menuju desa mereka berada di kawasan pegunungan dengan kondisi berbatu dan tanjakan curam. Mobil tidak bisa melintas hingga satu-satunya pilihan adalah menandu pasien secara manual.

Proses perjalanan itu tidak mudah. Nasir ditandu menggunakan sarung yang diikat pada dua bilah bambu. Warga bergantian membawa tandu, melewati medan berat di bawah terik matahari. Meski tandu dilengkapi payung untuk melindungi Nasir dari panas, usaha tersebut tetap tak mampu menyelamatkan nyawanya.

Ketika rombongan akhirnya tiba di jalan yang sudah dicor dan memungkinkan akses ambulans, Nasir telah dinyatakan meninggal dunia. Jenazahnya kemudian kembali ditandu ke desa dan tiba di rumah duka sekitar pukul 21.30 WITA.

Fenomena ini, seperti yang diungkapkan Pardi, bukanlah kali pertama terjadi. “Sudah sering warga sakit ditandu ke puskesmas karena jalan kami tidak bisa dilalui kendaraan,” ujarnya dengan nada penuh harap.

Baca Juga: Perang Melawan Narkoba, Polda Sulteng Amankan 64.383 Gram Sabu dan 811 Tersangka

Ia mengungkapkan bahwa fasilitas kesehatan seperti puskesmas pembantu (pustu) yang ada di desa hanya mampu menangani kasus ringan, sehingga pasien dengan kondisi serius harus dibawa ke puskesmas utama.

Pardi dan warga Desa Kopeang berharap pemerintah segera mengambil tindakan. Perbaikan akses jalan menjadi kebutuhan mendesak. Tanpa itu, warga akan terus menghadapi kesulitan serupa, bahkan mungkin kehilangan lebih banyak nyawa.

Kejadian ini juga direkam oleh warga, menunjukkan kondisi nyata yang mereka hadapi. Video tersebut memperlihatkan perjuangan mereka melewati jalan berbatu, membawa tandu dengan dedikasi dan rasa saling peduli yang tinggi. Namun, dedikasi tersebut tidak dapat menggantikan kebutuhan akan infrastruktur yang memadai.

Kisah ini mengingatkan kita betapa pentingnya aksesibilitas terhadap layanan kesehatan. Infrastruktur yang memadai tidak hanya memudahkan kehidupan sehari-hari, tetapi juga menjadi penyelamat nyawa. Pemerintah diharapkan dapat mendengar suara warga Desa Kopeang dan memberikan solusi yang nyata.

Ayo Gabung di Channel WhatsApp Sulawesitoday! Dapatkan update informasi dan berita terbaru di https://bit.ly/WAchanelSulawesitoday

Jangan Ketinggalan Berita Eksklusif Lainnya! Yuk, cek langsung di Google News Sulawesitoday.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram

Sebuah kiriman dibagikan oleh Sulawesitoday.com (@sulawesitoday)

Editor: Nur Rafiqa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini