• Minggu, 19 Juli 2026

Pekerja Migran Sulteng Direkrut Lewat Jejaring Keluarga, Fenomena yang Sudah Mendarah Daging

.
Dwi Rahayu Putri, Sulawesi Today
- Selasa, 18 Februari 2025 | 16:54 WIB
BP3MI Sulawesi Tengah ungkap mayoritas pekerja migran Indonesia direkrut oleh keluarga di Malaysia. Program pencatatan diinisiasi untuk cegah risiko keberangkatan ilegal.
BP3MI Sulawesi Tengah ungkap mayoritas pekerja migran Indonesia direkrut oleh keluarga di Malaysia. Program pencatatan diinisiasi untuk cegah risiko keberangkatan ilegal.

Sulawesitoday - Sebuah fenomena menarik terkuak di balik keberangkatan pekerja migran Indonesia. Fenomena ini mengungkap bahwa sebagian besar pekerja migran Sulteng direkrut lewat jaringan keluarga.

BP3MI Sulawesi Tengah menemukan pola rekrutmen yang sudah berlangsung lama. Pola ini melibatkan anggota keluarga yang telah menjejak di Malaysia untuk mengajak kerabatnya berangkat secara non-prosedural.

Keluarga yang telah bekerja di luar negeri memainkan peran sentral dalam proses ini. Mereka menjembatani keinginan saudara atau sepupu untuk mencari nafkah di tanah rantau.

Kepala BP3MI Sulawesi Tengah, Mustaqim Ode, menjelaskan fenomena tersebut dengan lugas. Ia menyatakan, "Hampir semua PMI ini direkrut oleh keluarganya yang lebih dulu bekerja di Malaysia. Mereka kemudian diajak untuk menyusul dan dijemput di daerah perbatasan seperti Sebatik dan Kalimantan Barat," ujarnya pada Senin (18/2/2025).

Hubungan kultural antara Indonesia dan Malaysia menjadi akar dari fenomena ini. Hubungan yang erat ini memudahkan rekrutmen melalui mekanisme informal yang sudah mendarah daging.

Namun, banyak pekerja migran Indonesia tidak memahami risiko keberangkatan ilegal. Mereka sering kali hanya mengikuti jejak keluarga tanpa mengecek aturan resmi yang berlaku.

Sebagai antisipasi, BP3MI menginisiasi program pencatatan pekerja migran. Program ini bertujuan mendata warga yang bekerja di luar negeri, baik secara prosedural maupun non-prosedural.

Keluarga dan kepala desa diharapkan turut berpartisipasi dalam pencatatan ini. Dengan data yang akurat, langkah pencegahan dapat dilakukan sejak dini untuk menghindari risiko yang lebih besar.

Tak jarang, PMI yang dideportasi menghadapi kesulitan serius. Keterbatasan komunikasi dan minimnya bekal membuat mereka kesulitan kembali ke daerah asal.

BP3MI terus memperkuat kerja sama dengan pemerintah daerah. Sinergi ini diharapkan memperlancar proses pemulangan pekerja migran Sulteng ke kampung halaman.

Kisah ini membuka mata kita tentang pentingnya memilih jalur resmi dalam bekerja di luar negeri. Apakah risiko keberangkatan non-prosedural sudah dipahami sepenuhnya oleh masyarakat?

Upaya pencatatan ini bukan sekadar administrasi belaka. Inisiatif tersebut merupakan bentuk perlindungan nyata bagi pekerja migran Indonesia.

Baca Juga: Pekerja Migran Sulteng Ditangkap Dideportasi dari Malaysia, Dipulangkan Lewat Jalur Laut

Kerja sama lintas instansi menegaskan komitmen pemerintah dalam mengatasi tantangan migrasi. Dengan koordinasi yang lebih baik, pemulangan PMI dapat dilakukan secara efektif dan tertib.

Halaman:

Editor: Dwi Rahayu Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Artikel Terkait

Terkini