• Selasa, 21 Juli 2026

HIV AIDS di Sulawesi Barat Meningkat, Kasus Balita Positif di Majene Jadi Sorotan

.
Dwi Rahayu Putri, Sulawesi Today
- Rabu, 19 Februari 2025 | 18:43 WIB
Kasus HIV/AIDS di Sulbar mencapai 206 hingga Feb 2025, dengan balita di Majene positif HIV. Kondisi mengkhawatirkan mendorong penanganan holistik.
Kasus HIV/AIDS di Sulbar mencapai 206 hingga Feb 2025, dengan balita di Majene positif HIV. Kondisi mengkhawatirkan mendorong penanganan holistik.

Sulawesitoday - Data terkini dari Dinas Kesehatan Sulawesi Barat menunjukkan bahwa kasus HIV AIDS terus mengalami peningkatan signifikan dalam dua bulan terakhir.

Hingga Februari 2025, total kasus yang tercatat mencapai 206, sebuah angka yang mengkhawatirkan di tengah upaya pengendalian penyakit menular ini.

Di antara peningkatan tersebut, sebuah kasus yang paling memprihatinkan adalah penemuan balita di Kabupaten Majene yang divonis positif HIV/AIDS.

Menurut data yang diperoleh, balita tersebut berusia antara 1 hingga 4 tahun. Konfirmasi mengenai adanya kasus ini datang dari Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Sulawesi Barat, dr. Indah Nursyamsi.

Saat ditemui di ruang kerjanya di Kompleks Perkantoran Gubernur Sulawesi Barat pada Rabu (19/2/2025), dr. Indah enggan berspekulasi terkait penyebab pasti penularan pada anak tersebut.

"Untuk detail penyebabnya, lebih baik ditanyakan langsung ke bagian pengolah data di kabupaten," ujarnya.

Kasus ini ditemukan sepanjang periode Januari 2024 hingga Februari 2025, menggambarkan tren yang terus mengkhawatirkan. Peningkatan kasus HIV/AIDS di wilayah ini menjadi sorotan utama karena menyentuh kelompok yang sangat rentan, terutama balita.

Penularan HIV pada anak-anak umumnya terjadi melalui beberapa jalur, antara lain:

  1. Transmisi vertikal dari ibu ke anak: Virus HIV dapat ditularkan selama kehamilan, persalinan, atau melalui ASI, terutama jika terdapat luka pada puting atau gangguan sistem imun pada bayi.
  2. Transfusi darah: Risiko terjadi apabila darah yang digunakan untuk transfusi tidak melalui proses penyaringan yang ketat.
  3. Penggunaan jarum suntik: Penularan bisa terjadi jika jarum suntik yang terkontaminasi digunakan kembali.
  4. Kekerasan seksual: Meskipun jarang, penularan juga dapat terjadi akibat pelecehan seksual yang dialami oleh anak.

Peningkatan kasus ini mengundang keprihatinan mendalam dari kalangan medis dan masyarakat. Banyak pihak mendesak agar upaya pencegahan diperkuat melalui program edukasi, peningkatan pengawasan medis, serta pemeriksaan rutin pada ibu hamil guna mengurangi risiko penularan vertikal.

Para ahli juga menyoroti pentingnya penerapan protokol kesehatan yang ketat dalam prosedur transfusi darah dan penggunaan alat medis yang steril.

Baca Juga: Harga Minyak Nilam Mamasa Anjlok Drastis, Petani Cemas Menjelang Ramadan

Di tengah situasi yang penuh tantangan ini, pemerintah daerah dan dinas kesehatan diharapkan dapat segera mengimplementasikan strategi yang lebih holistik dan terintegrasi.

Langkah tersebut diharapkan mampu menekan angka penularan dan memberikan perlindungan lebih kepada kelompok rentan, khususnya anak-anak.

Peningkatan kapasitas diagnostik dan akses terhadap pengobatan dini menjadi kunci utama untuk menghadapi tren positif HIV/AIDS yang mengkhawatirkan ini.

Halaman:

Editor: Dwi Rahayu Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini