Jumlah pengungsi juga masih tinggi. Sebanyak 496.293 jiwa masih tinggal di lokasi pengungsian. Mereka tersebar di berbagai kabupaten dan kota terdampak.
Mengenai status darurat, ada perubahan di beberapa wilayah. BNPB menyebut 12 kabupaten dan kota sudah beralih dari tanggap darurat ke transisi darurat.
Namun sejumlah daerah lain masih memperpanjang status tanggap darurat. Perpanjangan berlaku hingga 28 atau 30 Desember 2025. Tergantung kondisi masing-masing wilayah.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Di balik setiap angka ada cerita. Ada tangis. Ada kehilangan. Ada trauma yang tak terlihat mata.
Apakah Ada Upaya Pemulihan Mental untuk Penyintas?
Pmerintah tak tinggal diam. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, mengungkapkan fokus khusus. Kementeriannya mengarahkan perhatian pada pemulihan trauma.
Program trauma healing dilaksanakan di posko pengungsian. Sasarannya adalah anak-anak, perempuan, dan keluarga. Mereka yang paling rentan mengalami dampak psikologis berkepanjangan.
Arifah menegaskan pentingnya pendampingan mental. "Pemulihan fisik saja tidak cukup," ungkapnya dalam pernyataan resmi. Kesehatan mental sama pentingnya dengan pemulihan infrastruktur.
Tak hanya pemerintah yang bergerak. Relawan swadaya masyarakat juga turun tangan. Mereka menerjunkan personel untuk memberikan dukungan psikososial. Konseling, pendampingan, hingga aktivitas penyegaran mental dilakukan secara rutin.
Pendekatan holistik terus dilakukan. Tujuannya sederhana namun penting: menyelamatkan kondisi mental para penyintas. Agar mereka tak hanya selamat secara fisik, tapi juga pulih secara psikologis.
Namun tantangannya besar. Jumlah penyintas sangat banyak. Sementara tenaga profesional terbatas. Butuh waktu dan sumber daya yang tidak sedikit.
Baca Juga: Satgas PKH Selamatkan Rp 6,6 Triliun dari Kawasan Hutan, Tembok Uang Penuhi Lobi Gedung Bundar