Sulawesitoday - Sebuah video viral memicu kegaduhan di Krangkeng, Indramayu, Jumat (10/4). Rekaman itu memperlihatkan seorang ibu yang menangis histeris, mendekap erat ban mobil Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Ia menyangka anaknya sudah lumat dilindas roda pengangkut Makan Bergizi Gratis (MBG) itu.
Tapi, kenyataan sering kali tidak sedramatis tangisan.
Anak itu ternyata masih utuh. Tidak ada tulang yang patah. Tidak ada darah yang mengucur. Bocah tiga tahun itu hanya sedang asyik bermain. Di tempat yang salah: tepat di belakang ban depan mobil yang hendak berangkat.
"Sopir tidak tahu ada anak di situ. Dia langsung naik ke kemudi," ujar Farid, pemilik SPPG An-Nur, saat memberikan penjelasan kepada media.
Warga sekitar telanjur melihat adegan itu dengan kengerian yang meluap. Teriakan histeris pecah. Seolah-olah maut benar-benar baru saja lewat di bawah sasis mobil pengantar gizi tersebut. Si ibu, dalam puncak kepanikannya, langsung memeluk karet hitam bundar itu.
Dunia digital pun geger. Kabar "Balita Terlindas Mobil MBG" menyebar lebih cepat dari aroma nasi hangat yang mereka bawa.
Padahal, setelah dibawa ke rumah sakit, dokter geleng-geleng kepala. Bukan karena parah, tapi karena memang tidak ada luka sama sekali. Camat ada di sana. Polisi juga menyaksikan. Hasilnya nihil cedera.
"Memang anaknya masih sehat, cuma gemeter aja. Sekarang sudah mainan lagi, lari-lari," tambah Farid.
Kejadian ini menjadi pelajaran mahal soal kecepatan jempol di media sosial. Sering kali, emosi mendahului verifikasi. Sesuatu yang belum tentu benar, jika sudah diposting dengan narasi pilu, akan dianggap sebagai kebenaran mutlak.
Farid pun hanya bisa mengelus dada. Ia meminta agar masyarakat tidak terburu-buru mengunggah konten yang belum jelas duduk perkaranya.
"Jangan terlalu cepat memposting. Kalau nggak benar, jadinya fitnah," cetusnya.
Bagi petugas pengiriman SPPG, peristiwa ini adalah alarm keras. Hati-hati itu mutlak. Terutama saat unit mobil masuk ke gang-gang sempit yang penuh dengan anak kecil yang sedang guyonan.
Untungnya, urusan ini berakhir dengan jabat tangan. Orang tua sang bocah sudah menerima kenyataan bahwa ini murni kesalahpahaman. Program makan gratis tetap jalan, namun kewaspadaan kini harus ditingkatkan berkali lipat.
Jangan sampai niat memberi gizi, justru berbuah tragedi yang tak diingini. Meski kali ini, maut hanya sekadar mampir lewat di kolong mobil tanpa sempat menyentuh kulit. Ternyata, malaikat pelindung sang bocah sedang bekerja lembur hari itu di Indramayu.