Rompi Pink untuk Sang Pengawas
Sulawesitoday - DIBAYAR Rp1,5 miliar. Angkanya mungkin tidak seberapa dibanding omzet nikel yang triliunan. Tapi bagi seorang Ketua Ombudsman, angka itu cukup untuk menukar martabat dengan rompi merah muda. Itulah nasib Hery Susanto hari ini: dari kursi tinggi pengawas birokrasi, pindah ke sel Rutan Salemba.
Gedung Jampidsus Kejagung mendadak riuh, Kamis (16/4). Syarief Sulaeman Nahdi, sang Direktur Penyidikan, tampil tenang tapi mematikan. Dia mengungkap bagaimana PT TSHI—perusahaan yang lagi pusing tujuh keliling soal tagihan ke negara—menemukan "jalan tol" lewat sang Komisioner.
"Ada penerimaan uang untuk saat ini saja kami bisa mendeteksi sekitar Rp1,5 miliar," ujar Syarief di hadapan wartawan.
Persoalannya klasik: urusan duit Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di Kementerian Kehutanan. PT TSHI merasa berat bayar. Mereka cari celah. Ketemulah Hery. Logikanya sederhana: kalau kementerian tidak bisa diajak kompromi, minta Ombudsman yang "mengoreksi" kementeriannya.
Maka terjadilah kongkalikong itu.
Hery diduga mengatur sedemikian rupa agar Ombudsman mengeluarkan perintah sakti. Isinya? Memerintahkan kementerian agar membiarkan PT TSHI menghitung sendiri beban yang harus dibayar. Ini gila. Ibarat murid yang disuruh menentukan sendiri nilai ujiannya agar tidak tinggal kelas.
Duit pelicin itu datang dari LKM, Direktur PT TSHI. Masuk ke kantong Hery saat ia masih menjabat Komisioner, namun dampaknya meledak saat ia baru saja mencicipi kursi Ketua.
"Bersama dengan HS untuk mengatur sehingga surat atau kebijakan yang dilakukan oleh Kemenhut itu dikoreksi," tambah Syarief.
Kini, undang-undang KUHP baru sudah menantinya. Pasal 12, Pasal 5, hingga Pasal 606 disiapkan jaksa untuk menjerat sang penjaga moral. Sungguh ironis. Orang yang harusnya memelototi penyimpangan administrasi, justru menjadi sutradara dibalik penyimpangan itu sendiri.
Mungkin Hery lupa, di nikel yang mengkilap itu, selalu ada jejak yang tertinggal. Kini, ia punya waktu 20 hari kedepan di tahanan untuk merenungi mengapa harga sebuah integritas hanya dihargai Rp1,5 miliar.
Indonesia memang unik. Penjaga gawangnya pun kadang pengen ikut nyetak gol—lewat gawangnya sendiri.
Miris! Debt Collector Prank Ambulans di Tanah Abang Demi Tagih Utang, Tenaga Medis Geram
Artikel Terkait
Bupati Parigi Moutong Erwin Burase: Cegah Narkoba Sejak Dini Demi Kondusivitas Daerah
Majene Lawan Stunting: Tak Cukup Kenyang, Pemerintah Paksa OPD Kompak Urus Gizi Rakyat
Babak Baru Laporan Wartawan di Majene, Sudah Tahap Sidik Tapi Masih Ada Ruang Maaf
Miris! Debt Collector Prank Ambulans di Tanah Abang Demi Tagih Utang, Tenaga Medis Geram
Banjir Oli Hitam Pekat di Cemani Sukoharjo, Limbah Meluap dari Penampungan Bawah Tanah