Sulawesitoday - Sirene itu lambang nyawa. Begitu bunyi, jalanan harus menepi. Tapi di Tanah Abang, Selasa kemarin, sirene itu hanya jadi alat gertak. Alat menagih utang. Pelakunya? Diduga seorang debt collector.
Kru ambulans sudah telanjur tancap gas. Dari jauh. Menembus macet. Laporannya genting: ada warga kejang-kejang di sebuah kantor. Begitu sampai, yang ada hanya sepi. Si sakit tidak ada. Yang ada justru pesan singkat dari pengorder: "Segera bayar utang Anda."
Ini gila.
Ambulans dipesan bukan untuk membawa pasien ke RS. Tapi untuk mempermalukan debitur di kantornya. Seolah-olah si debitur sedang sekarat, padahal cuma sedang ditagih tunggakan.
"Datang ke sini jauh-jauh ternyata nggak ada korban. Jangan melebihkan medis, Pak!" teriak salah satu kru ambulans dalam rekaman video yang viral Rabu (15/4). Suaranya bergetar. Antara lelah dan marah.
Tenaga medis itu merasa diinjak-injak. Martabat profesinya dijadikan mainan. "Bapak berarti udah ngerjain tenaga medis, udah melecehkan tenaga medis," tambahnya lagi.
Logika si penagih utang memang ajaib.
Saat kru ambulans meminta ganti rugi bensin dan waktu, si pengorder malah tertawa. Renyah sekali. "Nanti saya TF (transfer). Ada DANA? Ah nggak ada hehehe," katanya enteng di ujung telepon. Uang bensin tidak pernah datang, yang datang hanya rasa jengkel yang mendalam.
Kru ambulans itu gigit jari. Tenaga terkuras, bensin habis, tapi hanya dapet tawa mengejek.
Publik pun meradang. Kolom komentar media sosial penuh dengan caci maki untuk si pengorder fiktif. Netizen benar. Ambulans itu soal nyawa. Bagaimana kalau saat ambulans itu dipakai untuk prank menagih utang, di tempat lain ada orang yang benar-benar sedang menjemput maut?
"Harus dipidana. Ambulans itu gawat darurat dan menyangkut nyawa. Kalau sudah dipermainkan DC, pemerintah harus tegas," tulis akun @mel*******a di Instagram.
Kini, urusannya bukan lagi soal utang piutang. Ini soal etika yang sudah mampus. Menagih utang itu hak, tapi menggunakan ambulans untuk menipu? Itu kejahatan nurani.
Polisi harusnya mulai bergerak. Jangan sampai besok-besok, mobil jenazah pula yang dipesan hanya untuk menagih cicilan motor yang macet. Dunia sudah makin terbalik-balik saja.
Viral Jemur Padi di Lampu Merah Maros, Antara Urusan Perut dan Bahaya di Jalan Raya
Artikel Terkait
Viral Jemur Padi di Lampu Merah Maros, Antara Urusan Perut dan Bahaya di Jalan Raya
Ketua DPRD Parigi Moutong Masuk Akmil Magelang, Alfres Siap Ditempa di Lembah Tidar
Bupati Parigi Moutong Erwin Burase: Cegah Narkoba Sejak Dini Demi Kondusivitas Daerah
Majene Lawan Stunting: Tak Cukup Kenyang, Pemerintah Paksa OPD Kompak Urus Gizi Rakyat
Babak Baru Laporan Wartawan di Majene, Sudah Tahap Sidik Tapi Masih Ada Ruang Maaf