Sulawesitoday - Hujan di Sukoharjo itu biasa. Banjir di Grogol juga bukan barang baru. Tapi banjir di Gang Nuri, Waringinrejo, Rabu kemarin, benar-benar beda. Airnya tidak cokelat. Tidak bening. Air itu hitam legam. Pekat. Dan licin.
Itulah banjir oli.
Ribuan liter limbah oli bekas tumpah ke jalanan Desa Cemani. Mengalir ke gang-gang. Masuk ke ruang tamu. Menempel di kaki-kaki kursi. Ribuan orang menonton videonya di Instagram. Mereka ngeri. Bagaimana cara membersihkannya? Air biasa tidak akan mempan.
Penyebabnya sederhana tapi fatal. Ada penampungan oli bekas di bawah tanah. Bentuknya persis septic tank. Sialnya, air hujan masuk ke dalam tangki itu. Hukum alam berlaku: massa jenis oli lebih ringan dari air. Oli pun terdesak ke atas. Meluap.
"Sudah disumpel pakai karung, tetap keluar. Ini sisa 5 drum saja," ujar seorang pria dalam rekaman yang viral itu.
Bayangkan perasaan warga. Banjir saja sudah bikin pening. Ini ditambah oli. Licinnya minta ampun. Baunya khas. Dan warnanya itu: hitam abadi.
"Rumah saya di situ, olinya item banget," tulis seorang warga di kolom komentar. Akun lain mengeluh lebih pedas. Katanya, rumahnya yang di belakang sudah berubah warna. Hitam semua. Bersih-bersihnya pasti bikin encok.
Masalahnya sekarang: siapa yang tanggung jawab?
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanda-tanda pihak terkait pasang badan. Padahal dampaknya nyata. Jalanan licin berbahaya. Lingkungan tercemar. Belum lagi urusan kerugian materiil warga yang perabotanya terendam cairan berminyak itu.
"Sampai sekarang belum ada pertanggungjawaban," ungkap akun @hahsans_.
Memang, Selasa malam itu hujan turun luar biasa. Solo Baru hingga Tanjung Anom terendam setinggi lutut. Macetnya sampai siang harinya masih terasa. Tapi di Gang Nuri, kemacetan bukan satu-satunya masalah.
Warga di sana tidak butuh sekadar air surut. Mereka butuh deterjen dalam jumlah besar. Dan tentu, mereka butuh kepastian agar septic tank oli itu tidak "muntah" lagi di hujan berikutnya.
Sukoharjo sedang diuji. Bukan oleh air, tapi oleh kelalayan yang terbungkus limbah hitam. Sangat nyusahin.
Miris! Debt Collector Prank Ambulans di Tanah Abang Demi Tagih Utang, Tenaga Medis Geram
Artikel Terkait
Ketua DPRD Parigi Moutong Masuk Akmil Magelang, Alfres Siap Ditempa di Lembah Tidar
Bupati Parigi Moutong Erwin Burase: Cegah Narkoba Sejak Dini Demi Kondusivitas Daerah
Majene Lawan Stunting: Tak Cukup Kenyang, Pemerintah Paksa OPD Kompak Urus Gizi Rakyat
Babak Baru Laporan Wartawan di Majene, Sudah Tahap Sidik Tapi Masih Ada Ruang Maaf
Miris! Debt Collector Prank Ambulans di Tanah Abang Demi Tagih Utang, Tenaga Medis Geram