• Selasa, 21 Juli 2026

Banjir Bandang Terjang Maleali Parigi Moutong, 284 Warga Merasakan Dampak

.
Dwi Rahayu Putri, Sulawesi Today
- Minggu, 8 Juni 2025 | 12:58 WIB
Ratusan warga Desa Maleali, Parigi Moutong, terdampak banjir bandang yang menghantam desa mereka, memutuskan jembatan vital.
Ratusan warga Desa Maleali, Parigi Moutong, terdampak banjir bandang yang menghantam desa mereka, memutuskan jembatan vital.

Sulawesitoday - Musim hujan kembali menunjukkan taringnya di tanah Sulawesi. Sabtu malam, hujan lebat bertamu di Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong, lantas mengirimkan teror air bah ke Desa Maleali.

Sebanyak 284 warga harus merasakan langsung dampaknya, sementara satu jembatan vital terenggut, meninggalkan jejak kepedihan yang nyata di balik surutnya air.

Akris Fattah Yunus, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tengah, menuturkan bahwa banjir bandang itu datang pada pukul 21.15 WITA.

"Berdasarkan data di lapangan, tercatat 73 Kepala Keluarga (KK) dengan 284 jiwa terdampak banjir bandang," ujar Akris di Palu, Minggu (8/6/2025). Angka ini, katanya, merinci lima bayi, 27 balita, dan 65 lansia yang turut merasakan hantaman air.

Di antara seratusan warga yang terpaksa gigit jari menyaksikan rumahnya terendam, ada satu keluarga beranggotakan sepuluh jiwa yang memilih mengungsi. Mereka terdiri dari dua bayi, empat balita, dan dua lansia, mencari perlindungan sementara dari sisa-sisa amukan air.

Banjir tak hanya merendam rumah warga. Sebuah jembatan yang menjadi nadi penghubung di desa tersebut tak kuasa menahan derasnya air.

Jembatan itu kini putus, menjadi satu-satunya fasilitas umum yang mengalami kerusakan parah. Kerugian yang tak bisa diukur hanya dengan angka, namun juga dari terputusnya akses dan mobilitas warga setempat.

Beruntungnya, Akris memastikan tidak ada korban jiwa dalam musibah ini. Saat ini, timnya tengah bahu-membahu dengan pemerintah daerah setempat untuk melakukan asesmen komprehensif.

"Kami melakukan asesmen guna penanganan pasca-banjir di Desa Maleali," tegasnya. Kebutuhan mendesak yang kini menjadi prioritas adalah pasokan logistik penanggulangan bencana dan upaya normalisasi sungai yang meluap.

Baca Juga: Kakanwil Ditjenpas Sulteng Sulap Lapas Kolonodale, 13 Program Pembinaan Jadi Sorotan

Kini, air perlahan telah surut, meninggalkan lumpur dan puing sebagai saksi bisu. Warga Maleali mulai membersihkan rumah mereka, mencoba bangkit dari keterpurukan.

Namun, luka akibat banjir bandang di Desa Maleali ini akan tetap menjadi pengingat pahit tentang kekuatan alam yang kadang tak terduga.

Editor: Dwi Rahayu Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini