Sulawesitoday - Ratusan warga Dusun Banjarjo menggelar aksi protes unik. Mereka menebar ribuan lele ke dalam kubangan jalan.
Lagu Indonesia Raya berkumandang khidmat di lokasi. Warga Merak Batin menangkap ikan menggunakan besek bambu.
Aksi teatrikal ini merekam kekecewaan yang mendalam. Infrastruktur jalan itu rusak selama empat belas tahun.
"Jalan ini sudah lama tidak ada perbaikan," ujar Bagas. Mobilitas warga terhambat setiap kali musim hujan datang.
Kubangan air ini menjadi simbol kelalaian pemerintah daerah. Keselamatan pengguna jalan kini berada di titik nadir.
Akses transportasi warga Merak Batin pun kian terisolasi. Mereka menuntut perhatian serius dari pemangku kebijakan setempat.
Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, akhirnya angkat bicara. Ia mengklaim pemerintah selalu mendengar aspirasi masyarakat.
Namun, Egi menekankan pentingnya tahapan dalam pembangunan. Menurutnya, kebijakan harus berjalan tertib dan juga adil.
"Manfaat pembangunan perlu dirasakan merata oleh masyarakat," tegasnya. Skala prioritas menjadi alasan penundaan perbaikan ruas jalan.
Ada program cepat, ada pula yang butuh waktu. Bagi warga, empat belas tahun bukanlah waktu yang sebentar.
Kesenjangan antara birokrasi dan realitas lapangan kian nyata. Rakyat tetap menanti aspal, bukan sekadar janji manis.
Baca Juga: Prahara Upah RS Anuntaloko, Tarik Ulur Nasib Pekerja di Balik Jerat Kontrak Vendor
Artikel Terkait
Prahara Upah RS Anuntaloko, Tarik Ulur Nasib Pekerja di Balik Jerat Kontrak Vendor
Sengkarut APBD Parigi Moutong 2026, Kritik Anggota DPRD Soal Etika Kuasa
Jerat Hukum Guru Kripto, Timothy Ronald dan Skandal Rp200 Miliar
Stimulus 15 Bulan, Ojek Online Kini Cukup Bayar Setengah
Kalah Pacu AI, Apple Pilih Gemini demi Siri