Sulawesitoday - Bekasi tidak sedang baik-baik saja. Setidaknya, dalam beberapa hari terakhir. Fokus mata warga tertuju pada satu titik: Pertemuan Cileungsi dan Cikeas. Biasa disebut P2C.
Di sana, air sedang punya hajat besar.
Jumat dini hari tadi, 30 Januari 2026, jarum jam baru menunjuk pukul 01.30 WIB. Tapi petugas di lapangan sudah tegang. Angka di papan duga air merangkak naik. Sampai menyentuh 505 cm. Statis di sana. Bertahan sampai subuh menjelang. Statusnya? Top Level.
Tapi ada yang berbeda kali ini. Terutama soal suara.
Ingatan warga masih segar pada kejadian Rabu malam lalu. Saat itu, sirine meraung-raung. Pekik suaranya seperti alarm kiamat kecil bagi warga bantaran sungai. Efeknya luar biasa: panik. Warga berlarian ke jalan raya. Ada yang naik ke jembatan Kali Lengkak hanya untuk mengintip maut di bawah sana.
"Sirine itu penanda agar masyarakat waspada dan bersiap menghadapi hal tak diinginkan," ujar Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, saat itu.
Pelajaran dari Sebuah Bunyi
Rupanya, pemerintah kota cepat belajar. Bunyi yang bikin sport jantung itu dievaluasi. Diganti. Tak lagi sekadar raungan mesin, tapi berubah menjadi suara manusia. Lebih komunikatif.
Maka, pada Jumat pukul 02.30 WIB tadi, warga di Teluk Pucung, Bekasi Utara, tidak lagi mendengar pekikan horor. Yang terdengar adalah suara imbauan yang diulang-ulang:
“Peringatan, terjadi kenaikan tinggi muka air. Warga diharapkan waspada.”
Lebih tenang. Lebih tertib. Meski tetap saja, tidurnya warga tidak bisa nyenyak. Di media sosial, akun infobekasi_official mengonfirmasi bunyi peringatan dini tersebut sudah menggema sejak dini hari.
Membaca Arah Air
Bagaimana kondisi sungai-sungai lainnya? BPBD Kota Bekasi terus memelototi data. Hasilnya beragam:
Cibongas & Cileungsi Hulu: Masih kalem. Status normal.
Artikel Terkait
Adu Banteng Mio vs Carry di Parigi Moutong, Pengendara Motor Meninggal Dunia
Kronologi Pekerja Tambang Kolaka Dikeroyok 4 TKA China Akibat Tanya Gaji
Kenapa Harga Emas Naik Drastis? Tembus 3 Juta di 2026, Masihkah Layak Beli atau Sudah Terlambat
Ramadan Tinggal Hitungan Hari, Tradisi Kanji Rumbi Aceh Terancam Tak Terlaksana