Untungnya, sejauh ini tidak ada korban jiwa. Warga yang rumahnya dekat titik api sudah diimbau mengungsi sementara ke rumah kerabat.
Bahayanya sekarang adalah asap. Puskesmas sudah mulai bersuara. Kabut asap itu mengandung partikel jahat PM2.5 dan PM10 yang bisa masuk dalam paru-paru. Sangat berbahaya bagi bayi, lansia, dan ibu hamil.
Pemkab Parigi Moutong sebenarnya sudah menetapkan status siaga darurat sejak 30 Januari lalu. Status ini berlaku sampai akhir Februari.
Kini, semua pihak hanya bisa berjibaku. Berharap hujan segera turun untuk membantu menjinakkan sisa api di pegunungan.
Pelajaran dari Avolua sangat mahal: api yang kecil memang bisa jadi kawan untuk membersihkan lahan, tapi di musim kering begini, ia bisa jadi lawan yang sangat rakus. Memakan durian, memakan kelapa, memakan masa depan petani.
Baca Juga: Karhutla 20 Hektare di Avolua Parigi Moutong, Petugas Padamkan Api Secara Manual
Artikel Terkait
Karhutla 20 Hektare di Avolua Parigi Moutong, Petugas Padamkan Api Secara Manual
Sri Mulyani dan Epstein Files, Fakta di Balik Fitnah Digital yang Mengguncang Ekonomi
Pensiunan ASN Blora Tendang Kucing Hingga Mati, Terancam 1,5 Tahun Bui dan Denda 50 Juta!
Panduan Lengkap Atasi Gagal SMS Verifikasi dan OTP BNI Mobile Banking Terbaru
Pandji Pragiwaksono ke MUI, Tabayyun Mens Rea dan Komitmen Benahi Materi Komedi Sensitif